Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kaltim Diingatkan di Ambang Krisis Ekologis, Pakar Sebut Ini Fase Tenang Sebelum Bencana

Muhammad Ridhuan • Minggu, 14 Desember 2025 | 15:25 WIB
Banjir di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur.
Banjir di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur.

KALTIMPOST.ID-Kaltim memang tampak tenang dari kejauhan. Sungai Mahakam mengalir normal, cuaca relatif bersahabat, dan pembangunan terus bergerak.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung di permukaan. “Yang kita lihat hari ini sebenarnya adalah fase tenang sebelum krisis ekologis yang lebih besar,” ujar Aji Cahyono, pemerhati isu geopolitik kepada Kaltim Post.

Master Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Indonesian Coexistence itu menilai, arah kerusakan lingkungan di Kaltim menunjukkan pola yang sama dengan wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh yang dilanda banjir bandang dan longsor pada akhir 2025. “Peristiwa di Sumatra seharusnya dibaca sebagai peringatan serius bagi Kaltim,” katanya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 29 November 2025, bencana banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut menewaskan 303 orang.

Menurut Aji, angka itu mencerminkan rapuhnya wilayah yang kehilangan tutupan hutan dan daerah tangkapan air.

“Bencana itu bukan semata karena hujan ekstrem. Ia adalah akumulasi panjang dari kerusakan ekologis yang dibiarkan bertahun-tahun,” ujarnya.

Aji menyebut, Kaltim kini berada di jalur yang sama. Deforestasi, ekspansi tambang, dan perkebunan, serta pembangunan masif telah mengubah bentang alam secara drastis.

“Hutan ditebang, bukit dipangkas, sungai dipersempit. Ketika hujan datang, alam tidak lagi punya mekanisme untuk menahan air,” katanya.

Kerusakan itu tercermin dari data deforestasi. Sepanjang 2024, Kalimantan menjadi pulau dengan kehilangan hutan terbesar di Indonesia.

Kaltim mencatat deforestasi tertinggi, mencapai 44.483 hektare, dengan Kutai Kartanegara sebagai wilayah paling terdampak.

“Itu bukan kehilangan yang acak. Deforestasi didorong oleh konsesi tambang, sawit, kebun kayu, dan proyek pembangunan skala besar,” ujar Aji.

Ia menilai, perubahan arah pembangunan nasional membuat Kalimantan kini menjadi episentrum degradasi ekologis.

Tekanan terhadap lingkungan Kaltim semakin berat jika dilihat dalam jangka panjang. Dalam dua dekade terakhir, ratusan ribu hektare hutan primer basah hilang.

“Ketika hutan primer rusak, kita sedang menghilangkan benteng alami dari banjir dan longsor,” katanya.

Aji menyoroti kondisi topografi Kaltim yang rentan. Sebagian besar wilayah memiliki kemiringan curam dan sisanya berada di dataran rendah.

“Ini kombinasi berbahaya. Kerusakan di hulu akan langsung berdampak ke wilayah hilir,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa sedimentasi sungai akibat pembukaan lahan membuat daya tampung air terus menurun.

“Sungai-sungai besar seperti Mahakam perlahan kehilangan fungsinya. Saat hujan ekstrem, banjir bukan lagi kemungkinan, tapi keniscayaan,” kata Aji.

Menurutnya, pemerintah daerah harus segera mengubah pendekatan pembangunan. Moratorium pembukaan lahan di wilayah hulu sungai, rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai (DAS), serta pengawasan ketat terhadap industri ekstraktif menjadi langkah mendesak.

“Pembangunan tidak boleh terus berjalan dengan mengorbankan daya dukung lingkungan. Kalau ini dibiarkan, Kaltim hanya tinggal menunggu giliran. Apa yang terjadi di Sumatra bukan cerita orang lain. Itu cermin masa depan Kaltim jika krisis ekologis terus diabaikan,” ucapnya.

Diwartakan sebelumnya, banjir besar dan tanah longsor melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra.

Puncaknya, pada akhir November lalu. Sejumlah jembatan rusak, akses terputus, permukiman terendam, dan hampir sejuta warga harus mengungsi.

Sorotan muncul. Soal potensi serupa di berbagai daerah. Mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih mengintai.

Situasi di wilayah barat Indonesia itu pun menjadi salah satu acuan pemerintah daerah lain. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Termasuk Kaltim.

Di Benua Etam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat sepanjang 1 Januari hingga 25 November 2025 telah terjadi 788 kejadian bencana.

Banjir tercatat sebagai kejadian terbanyak, yaitu 245 kasus. Kebakaran permukiman menyusul dengan 224 kejadian, sementara tanah longsor terjadi 147 kali.

Selain itu, terdapat 50 kejadian gempa bumi, 42 cuaca ekstrem, serta insiden lain seperti abrasi, jembatan roboh, dan kekeringan. (rdh/rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #krisis ekologis #tambang batu bara #kutai timur #Kutai Barat #batu bara