Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pelaku Penembakan Bondi Diduga Berafiliasi ISIS, Pernah Dipantau Intelijen

Ari Arief • Rabu, 17 Desember 2025 | 05:00 WIB

PENEMBAKAN; Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese berbicara peristiwa penembakan.
PENEMBAKAN; Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese berbicara peristiwa penembakan.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Dua pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, Australia, diidentifikasi sebagai Sajid Akram (ayah) dan Naveed Akram (anak). Keduanya dilaporkan menganut ideologi ISIS dan telah lama menjadi subjek pengawasan oleh badan intelijen.

Serangan terjadi pada Minggu (14/12) di tengah keramaian festival Hanukkah yang dihadiri lebih dari seribu orang. Kedua pria bersenjata tersebut melepaskan tembakan ke arah kerumunan, mengakibatkan 15 peserta festival tewas.

Nasib pelaku, Sajid tewas setelah terlibat baku tembak dengan aparat kepolisian, sementara putranya, Naveed, mengalami luka-luka.

Sebelum polisi tiba, seorang warga setempat bernama Ahmed el Ahmed berhasil bergumul dengan salah satu pelaku dan merebut senjatanya. Ahmed, yang juga menderita luka tembak, kini dipuji sebagai pahlawan atas keberaniannya.

Baca Juga: Buntut Serangan Festival Yahudi, 12 Tewas: Ayah dan Anak Jadi Pelaku Penembakan di Pantai Bondi Australia

Aparat berwenang menyatakan bahwa motif utama serangan ini adalah untuk menyebar teror dan ketakutan di tengah komunitas Yahudi Australia.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi bahwa penyelidikan mengenai motif pelaku masih terus berlangsung. Namun, ia meyakini adanya kaitan ideologis dengan kelompok ekstremis.

"Tampaknya aksi ini didorong oleh ideologi Negara Islam (ISIS),” ujar Albanese, seperti dikutip dari AFP. Ia menambahkan dalam wawancara terpisah, “Sejak kemunculan ISIS lebih dari satu dekade lalu, dunia terus bergulat dengan ekstremisme dan ideologi kebencian ini.”

Riwayat Pengawasan

Albanese mengungkapkan bahwa Naveed Akram, yang berprofesi sebagai buruh bangunan, pernah berada di bawah pengawasan badan intelijen Australia pada tahun 2019. Namun, pada saat itu, ia dinilai tidak menimbulkan ancaman.

Baca Juga: Penembakan Brutal di Pantai Bondi Sydney: 10 Orang Tewas, Dua Pelaku Diamankan

"Mereka mewawancarainya, mewawancarai anggota keluarganya, serta orang-orang di sekitarnya,” jelas Albanese. “Pada waktu itu, ia tidak dipandang sebagai sosok yang perlu mendapat perhatian khusus.”

Pada bulan November tahun yang sama dengan serangan, Sajid dan Naveed diketahui melakukan perjalanan ke Filipina. Meskipun demikian, belum ada informasi pasti apakah mereka bertemu dengan kelompok ekstremis atau mengalami radikalisasi selama kunjungan tersebut.

Pada hari penyerangan, Naveed sempat memberi tahu ibunya bahwa ia akan pergi memancing di luar kota. Namun, pihak berwenang menduga kuat bahwa ia dan Sajid justru berada di sebuah apartemen sewaan, merencanakan serangan.

Dengan membawa senjata laras panjang, keduanya menembaki area pantai selama sepuluh menit. Sajid (50) tewas ditembak polisi, sedangkan Naveed (24) saat ini berada dalam kondisi koma di rumah sakit dan berada di bawah pengamanan ketat aparat.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#pantai bondi australia #ideologi isis #tewas