KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Ahmed al Ahmed, seorang warga sipil asal Australia, saat ini tengah menjalani pemulihan di rumah sakit menyusul operasi untuk mengangkat peluru dari tubuhnya.
Ahmed menuai pujian global setelah keberaniannya melucuti senjata pelaku penembakan massal di Pantai Bondi.
Meskipun harus menanggung rasa sakit yang luar biasa, Ahmed menyatakan tidak menyesal telah menyerbu pelaku penembakan tanpa senjata.
Menurut laporan Sydney Morning Herald Selasa (16/12/2025), ia bahkan bertekad akan melakukan tindakan serupa lagi, meskipun harus berhadapan dengan tembakan peluru.
Pernyataan terbaru Ahmed disampaikan melalui Sam Issa, pengacara imigrasi yang mendampinginya.
Issa mengunjungi Ahmed di Rumah Sakit St George di Kogarah, Sydney bagian selatan, Senin (15/12) malam waktu setempat.
"Ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya dan mengatakan akan melakukannya lagi. Namun, rasa sakit yang dideritanya mulai memberatkannya," ujar Issa. "Kondisinya sungguh tidak baik. Tubuhnya penuh luka tembak. Pahlawan kita sedang berjuang saat ini," tambah Issa, menjelaskan kondisi Ahmed di rumah sakit.
Issa merinci bahwa Ahmed menderita lima luka tembak yang menyebar di lengan kirinya. Satu peluru yang menembus hingga ke bagian belakang tulang belikat kirinya masih belum berhasil dikeluarkan.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa Ahmed terkena dua tembakan ketika ia bergumul dengan pelaku untuk merebut senjatanya selama serangan massal di area Pantai Bondi pada Minggu (14/12) waktu setempat. Serangan itu menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai lebih dari 40 lainnya.
Saat Ahmed memulihkan diri dari operasi pertamanya, Issa menyatakan kekhawatiran bahwa kliennya mungkin akan kehilangan lengan kirinya. Foto-foto di rumah sakit menunjukkan lengan kiri Ahmed terbalut perban sepenuhnya.
"Cederanya jauh lebih parah dari perkiraan. Saat kita membayangkan peluru di lengan, kita mungkin tidak membayangkan cedera seserius ini, tetapi ia telah kehilangan banyak darah," jelas Issa.
Ahmed, seorang Muslim dan pengungsi asal Suriah, tiba di Australia pada 2006 dan memperoleh status kewarganegaraan Australia pada 2022.
Issa menyebutkan bahwa Ahmed berjuang keras untuk mendapatkan kewarganegaraan setelah melarikan diri dari perang saudara di negaranya.
Pria berusia 44 tahun yang kini menjadi pemilik toko tembakau di Sydney ini juga adalah seorang ayah dari dua anak perempuan, berusia 5 dan 6 tahun.
Baca Juga: Penembakan Brutal di Pantai Bondi Sydney: 10 Orang Tewas, Dua Pelaku Diamankan
Menurut Issa, Ahmed merasa "berhutang budi" kepada masyarakat Australia setelah ia berhasil memperoleh kewarganegaraannya.
"Ahmed adalah pria rendah hati yang tidak mencari perhatian media; ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai seorang manusia pada hari itu," kata Issa.
"Ia bersyukur bisa berada di Australia. Tindakannya adalah caranya menyampaikan terima kasih karena telah diizinkan tinggal dan diberikan kewarganegaraan," lanjutnya.
"Ia sangat menghargai masyarakat ini, dan ia merasa sebagai anggota masyarakat, ia harus bertindak dan berkontribusi," pungkas Issa.(*)
Editor : Dwi Puspitarini