KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menulis skenario film bukan sekadar merangkai dialog dan konflik. Di baliknya, ada pertarungan antara ego penulis dan kebutuhan penonton. Hal itulah yang paling dirasakan Junisya Aurelita Andanya, script writer Sinemaku Pictures, dalam setiap proses kreatifnya.
Menurut perempuan kelahiran Samarinda itu, tantangan terbesar penulis skenario adalah memastikan cerita tetap menarik tanpa kehilangan keterhubungan dengan penonton. Dia menyadari industri film yang digelutinya bersifat komersial dan harus bisa diterima publik luas.
“Penulis pasti punya visi sendiri. Tapi aku juga harus mikir, orang lain bakal nangkep ceritanya atau enggak, relate atau enggak,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Jeha itu. Bagi Jeha, cerita yang baik harus sederhana secara rasa, meski kompleks secara emosi. Karakter yang kuat, konflik yang jelas, dan alur yang bisa diikuti menjadi kunci agar penonton tetap terlibat.
Baca Juga: Dari Samarinda ke Sinemaku Pictures, Jeha Menjahit Cerita Film Layar Lebar
Dia juga menekankan pentingnya kerja tim dalam penulisan skenario. Di Sinemaku Pictures, proses kreatif selalu melibatkan diskusi, kritik, dan revisi bersama. “Yang susah itu gimana caranya nerima kritik tanpa baper, dan ngasih kritik tanpa nyerang personal,” kata perempuan kelahiran 1999 itu.
Tantangan terberat justru datang dari film terbarunya Patah Hati yang Kupilih, saat ini sedang tayang di bioskop. Film itu mengangkat isu sensitif, perbedaan agama, kesalahan masa lalu, dan dinamika menjadi orang tua. Tema tersebut menuntut riset mendalam karena Jeha tidak memiliki pengalaman personal yang serupa. “Aku enggak relate secara pengalaman. Jadi aku harus ngobrol sama banyak orang biar ngerti sudut pandangnya,” ucapnya.
Dia bahkan berdiskusi dengan psikolog, ibu muda, serta individu yang pernah menjalani hubungan beda agama. Baik yang berhasil maupun gagal. Tujuannya satu, memastikan cerita terasa nyata dan tidak menghakimi. “Gimana caranya bikin karakter yang pernah salah besar tapi tetap manusiawi, itu susah,” tuturnya.
Baca Juga: Transfer ke Daerah Dominasi Belanja APBN Kaltim, DBH Tembus Rp29,10 Triliun
Tak berhenti di meja penulisan, perubahan juga kerap terjadi saat skenario masuk tahap produksi. Dialog dan adegan bisa disesuaikan dengan kebutuhan teknis di lapangan. Bagi Jeha, kunci menjaga cerita tetap utuh adalah komunikasi. “Selama diomongin baik-baik dan semua ngerti alasannya, perubahan itu bisa diterima,” katanya.
Sebagai anak daerah yang kini berkarya di industri film nasional, Jeha menitipkan pesan bagi generasi muda, khususnya di Samarinda. Dia mendorong anak-anak muda untuk berani menunjukkan karya dan membangun jejaring. “Jangan capek promosiin karya. Bukan pamer, tapi supaya orang tahu kita bisa apa,” ujarnya.
Jeha mengaku dulunya pemalu dan merasa minder sebagai anak daerah. Namun pengalaman mengajarkannya bahwa keberanian membuka diri justru membuka peluang. “Kalau kita enggak nunjukin karya, orang enggak akan tahu,” katanya.
Saat ini, Jeha tengah mengembangkan proyek film baru yang masih dalam tahap penulisan. Prosesnya lebih panjang dan matang. Dia memilih melambat, demi cerita yang lebih dalam dan kuat.(*/riz)
Editor : Muhammad Rizki