KALTIMPOST.ID, Awal tahun 2026 dibuka dengan sebuah film Indonesia yang bukan hanya menghibur.
Suka Duka Tawa, film drama komedi keluarga produksi BION Studios bersama Spasi Moving Image, justru memberikan ruang aman untuk menertawakan luka yang selama ini disimpan rapat.
Film debut sutradara Aco Tenriyagelli ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.
Namun jauh sebelum tanggal rilisnya, film ini sudah mencuri perhatian lewat berbagai screening awal dan festival.
Di balik judulnya yang ringan, Suka Duka Tawa menyimpan cerita tentang proses bertumbuh, kehilangan, dan memaafkan.
Film ini mengikuti perjalanan Tawa (diperankan oleh Rachel Amanda), seorang perempuan muda yang mencoba berdamai dengan luka masa kecilnya saat memasuki fase dewasa.
Luka itu berakar dari relasinya dengan sang ayah—sebuah hubungan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Alih-alih melarikan diri, Tawa justru mengolah pengalaman pahitnya lewat dunia stand-up comedy, menjadikan rasa sakit sebagai bahan tertawa di atas panggung.
Menurut Aco Tenriyagelli, dunia stand-up dipilih karena terasa jujur dan dekat dengan realitas banyak orang. Di sana, tawa dan kesedihan sering berjalan berdampingan—seperti hidup itu sendiri.
Baca Juga: Jadwal dan Cara Nonton The Great Flood Sub Indo secara Legal di Netflix, Film Bencana Korea Terbaru
Cerita Keluarga yang Terasa Nyata
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada hubungan keluarga yang digambarkan apa adanya.
Relasi Tawa dengan sang ibu, Ibu Cantik (Marissa Anita), dan ayahnya, Keset (Teuku Rifnu Wikana), tidak dibalut drama berlebihan.
Yang hadir justru hal-hal kecil yang terasa dekat, baik itu kesalahpahaman, rasa bersalah yang tak terucap, dan kasih sayang yang sulit dirangkai menjadi kalimat sederhana.
Akting Rachel Amanda tampil matang dan penuh empati. Ia tidak hanya memainkan peran anak yang terluka, tetapi juga mencoba memahami posisi orang tua yang sama-sama membawa beban masa lalu.
Baca Juga: Ini Alasan Film TIMUR Tetap Tayang di Tengah Gempuran Avatar
Tawa yang Lahir dari Persahabatan
Di sisi lain, film ini juga dipenuhi momen ringan lewat interaksi Tawa dengan geng stand-up comedy-nya yang diperankan Bintang Emon, Enzy Storia, Arif Brata, dan Gilang Bhaskara.
Chemistry mereka mengalir natural, menghadirkan tawa yang tidak dipaksakan, sekaligus menegaskan arti penting persahabatan sebagai ruang pulang.
Kehadiran cameo dari Abdel Achrian, Nazira C. Noer, dan Mang Saswi menambah warna komedi dengan gaya yang beragam, membuat film tetap hidup tanpa kehilangan kedalaman emosinya.
Pengalaman menonton Suka Duka Tawa juga diperkuat oleh pemilihan musik yang tepat sasaran.
Soundtrack, termasuk karya The Adams, ikut membangun suasana nostalgia. Musik di film ini meninggalkan rasa yang bertahan bahkan setelah kredit akhir berjalan.
Sebagai film panjang perdana, Suka Duka Tawa terasa jauh dari kesan mentah. Aco Tenriyagelli menunjukkan kematangan dalam meramu tema berat menjadi sajian yang ringan tanpa kehilangan makna.
Produser Ajish Dibyo menyebut film ini sebagai milestone penting dalam perjalanan kreatif Aco.
Pendewasaan tersebut terasa dari fokus cerita yang rapi, karakter yang kuat, dan keberanian untuk jujur pada emosi.
Respons positif dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) serta antusiasme penonton di berbagai screening awal menjadi bukti bahwa kedekatan emosional film ini berhasil menjangkau banyak hati. ***
Editor : Dwi Puspitarini