Menurutnya, prajurit justru harus dimaknai sebagai pasukan yang tidak mengenal lelah dan selalu siap mengabdi kepada negara.
Penegasan tersebut disampaikan Prabowo saat rapat koordinasi penanganan bencana di Aceh Tamiang, Kamis (1/1), setelah menerima laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto.
Dalam paparannya, Suharyanto menjelaskan bahwa setiap prajurit TNI yang diterjunkan ke wilayah terdampak bencana di Sumatera memperoleh uang makan dan uang saku sebesar Rp165 ribu per orang.
Mendengar istilah “uang lelah”, Prabowo langsung mengoreksi penyebutan tersebut.
“Kalau tentara jangan disebut uang lelah. Prajurit tidak boleh lelah,” ujar Prabowo. Ia menegaskan, bantuan tersebut lebih tepat disebut sebagai “uang semangat”.
Presiden menekankan bahwa tugas TNI adalah berbakti kepada bangsa dan negara, termasuk dalam kondisi darurat bencana. Karena itu, semangat pengabdian harus selalu menjadi landasan utama setiap penugasan di lapangan.
Sementara itu, Suharyanto juga melaporkan bahwa kebutuhan operasional tanggap darurat, termasuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur seperti jembatan, dibiayai melalui BNPB.
Mekanisme yang dijalankan adalah bekerja terlebih dahulu di lapangan, kemudian anggaran yang digunakan diaudit sebelum diajukan ke Kementerian Keuangan.
Rapat koordinasi tersebut digelar bersamaan dengan kunjungan Presiden Prabowo meninjau pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang.
Editor : Uways Alqadrie