KALTIMPOST.ID, SINGAPURA – Perekonomian Singapura mencatat lonjakan signifikan pada kuartal IV 2025.
Produk domestik bruto (PDB) negeri tersebut tumbuh 5,7 persen secara tahunan (year on year), menjadi pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak 2021.
Kinerja positif ini terutama ditopang oleh kebangkitan sektor manufaktur.
Baca Juga: 3 Tewas, 1 Kritis di Warakas Tanjung Priok: Dugaan Keracunan Masih Diselidiki
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) menyebut sektor manufaktur mencatat pertumbuhan hingga 15 persen pada periode Oktober–Desember 2025.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 4,9 persen.
MTI menjelaskan, pertumbuhan manufaktur didorong terutama oleh klaster biomedis dan elektronik.
Sektor manufaktur sendiri menyumbang sekitar 20 persen terhadap total PDB Singapura.
Kendati demikian, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. Sejumlah sektor lain justru terkontraksi, termasuk konstruksi dan jasa, sehingga pertumbuhan ekonomi pada kuartal akhir tahun ini tidak bersifat merata.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Singapura sepanjang 2025 mencapai 4,8 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan resmi MTI yang sebelumnya mematok target pertumbuhan sekitar 4 persen.
Capaian ini disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pidato Tahun Baru.
“Ini merupakan hasil yang lebih baik dari yang kami perkirakan, mengingat berbagai tantangan global,” ujar Wong.
Namun, ia mengingatkan bahwa mempertahankan laju pertumbuhan setinggi ini akan menjadi tantangan besar ke depan.
Untuk 2026, MTI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Singapura melambat di kisaran 1 hingga 3 persen.
Kepala Ekonom OCBC Selena Ling memperkirakan pertumbuhan PDB 2026 berada di sekitar 2 persen, seiring melunaknya pertumbuhan manufaktur akibat basis tinggi pada 2025.
Singapura sebelumnya telah memperingatkan bahwa tahun 2026 akan penuh tantangan, terutama akibat meningkatnya risiko perdagangan global.
Baca Juga: Dulu Dimusuhi Kini Ingin Memiliki, Sergio Ramos Tikung Pengusaha Amerika demi Kuasai Sevilla!
Pemerintah menyoroti kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang menerapkan bea masuk terhadap puluhan negara, termasuk Singapura.
Meski memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS sejak 2004, Singapura tetap terdampak tarif dasar sebesar 10 persen. Wong kala itu menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah yang “tidak mencerminkan hubungan persahabatan.”
Sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan, dengan rasio perdagangan terhadap PDB melebihi 320 persen pada 2024, Singapura dinilai sangat rentan terhadap gejolak global.
Pemerintah bahkan sempat mengantisipasi kemungkinan pertumbuhan nol dan telah melonggarkan kebijakan moneter dua kali sepanjang 2025 untuk meredam perlambatan ekonomi.(*)
Editor : Thomas Priyandoko