KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Meski Balikpapan tidak memiliki sesar berukuran besar. Namun posisinya dekat dengan Selat Makasar dan Sulawesi bisa terdampak gempa-gempa yang terjadi di Pulau Celebes tersebut.
Pantauan Stasiun Geofisika Balikpapan hanya terdapat sesar-sesar kecil saja di Kota Minyak. Akibat pulida atau gas-gas yang ada di bawah. Tapi bukan berarti aman Balikpapan benar-benar aman dari gempa.
Terutama jika terjadi gempa-gempa di Sulawesi. “Walau jaraknya ratusan kilometer. Tapi efeknya kita tidak tahu karena dalam tanah ini belum dilakukan mikrozonasi,” kata Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Rasmid.
Mikrozonasi adalah sebuah upaya memetakan potensi bahaya gempa bumi secara detail di suatu wilayah. Caranya dengan menganalisis karakteristik tanah dan amplifikasi gelombang gempa.
Biasanya untuk menentukan sebuah darah aman atau tidak dari gempa perlu melakukan mikrozonasi. Pihaknya perlu memetakan bagaimana kondisi di bawah permukaan daerah tersebut.
“Apakah batuannya keras atau lembek, berapa ketinggian dan ketebalannya sangat berpengaruh,” sebutnya. Apabila gempa terjadi di Sulawesi, Balikpapan bisa terpengaruh jika memiliki permukaan tanah lembek.
Teknisnya gelombang akan lama berada di medium yang lembek. “Kalau kita analogikan seperti kita bersepeda di pasir sama di aspal. Beda sekali,” imbuhnya. Gelombang akan lama bergetar di batuan yang lembek.
Kemudian amplitudo akan lebih membesar. Sehingga bangunan yang ada otomatis akan terpengaruh. Dia menyebutkan, seharusnya di setiap kota besar seperti Balikpapan sudah harus melakukan mikrozonasi.
“Jadi memetakan setiap jengkal tanah yang ada di bawahnya seperti apa,” imbuhnya. Rasmid bercerita daerah di Kalimantan yang sudah melakukan mikrozonasi hanya IKN.
Mengingat masuk dalam proyek strategis nasional. Stasiun Geofisika Balikpapan mendapat amanah dari Bappenas untuk melakukan mikrozonasi sebelum membangun Istana Negara.
Hasil mikrozonasi IKN menunjukkan hal baik. “Batuannya keras, begitu ada gelombang dari Sulawesi hanya lewat dan cepat pergerakannya,” tuturnya. Sehingga bangunan yang di atas aman ketika guncangan.
Hal yang menjadi masalah masalah jika suatu wilayah memiliki batuan lembek dan tebal. Sehingga gelombang akan lama dan menjalar. Lalu menghasilkan amplitudo tinggi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo