KALTIMPOST.ID, Ketegangan geopolitik di Amerika Latin kian memanas. Setelah Amerika Serikat melancarkan serangan mematikan ke Venezuela, kini Presiden Kolombia Gustavo Petro menyampaikan pernyataan keras yang mengguncang kawasan.
Tanpa menyebut ancaman secara gamblang, Petro memberi sinyal bahwa Kolombia tak akan tinggal diam jika kedaulatan negaranya terus ditekan dari luar.
Melalui akun X pada Senin (5/1), Petro meminta seluruh elemen keamanan bersatu dan menegaskan bahwa loyalitas aparat tidak boleh terbagi.
"Setiap prajurit Kolombia sekarang punya perintah: setiap komandan pasukan keamanan yang lebih menyukai bendera AS ketimbang Kolombia harus segera mundur dari institusi. Konstitusi Kolombia memerintahkan pasukan keamanan untuk membela kedaulatan rakyat," demikian pernyataan Petro di X, Senin (5/1).
Ia menekankan bahwa konstitusi Kolombia dengan jelas mengamanatkan militer dan aparat keamanan untuk melindungi rakyat, bukan kepentingan negara lain.
Pernyataan Petro menjadi sorotan karena ia secara terbuka berbicara tentang kemungkinan mengangkat senjata demi membela rakyat dan kedaulatan Kolombia.
"Saya pernah bersumpah tak akan menyentuh senjata lagi sejak menandatangani Pakta Perdamaian 1989. Namun demi tanah air, saya akan mengangkat senjata kembali," ucap Petro.
Meski menegaskan dirinya bukan tentara, Petro menyatakan paham tentang perang dan operasi rahasia. Ucapannya memperlihatkan kegelisahan mendalam di tengah meningkatnya tekanan geopolitik.
Bantahan Tegas atas Tuduhan AS
Pernyataan Petro muncul setelah Presiden AS Donald Trump menuding pada Minggu (4/1) yang mengatakan Kolombia dan presidennya sebagai penyumbang besar peredaran kokain ke Amerika Serikat.
Trump bahkan menyamakan nasib Petro dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang kini ditahan di New York. Petro menolak keras tudingan tersebut.
"Saya bukan pemimpin yang tidak sah, juga bukan pengedar narkoba. Satu-satunya aset yang saya punya cuma rumah keluarga yang bahkan masih dicicil pakai gaji saya. Data keuangan saya sudah dipublikasi. Tidak ada bukti saya menghabiskan uang lebih banyak dari upah saya. Saya bukan orang tamak," lanjut Petro.
Menurutnya, tuduhan itu justru berasal dari kepentingan elite politik Kolombia yang terhubung dengan jaringan mafia narkoba.
"Ini produk kepentingan politikus Kolombia yang terkait secara kekeluargaan atau komersial dengan mafia, yang ingin memecah belah hubungan antara AS dan Kolombia sehingga perdagangan narkoba kokain meledak di dunia," kata Petro.
Situasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah AS menyerang wilayah Venezuela, termasuk Caracas, yang menewaskan sedikitnya 80 orang pada Sabtu (3/1). Penangkapan Presiden Venezuela dan istrinya yang sejak lama diklaim memimpin kartel narkoba. Maduro kini ditahan di New York dan dijadwalkan hadir dalam sidang narkoterorisme pada Senin (5/1).
Berbagai negara dunia telah mengecam serangan AS ke Venezuela karena dinilai melanggar hukum internasional.***
Editor : Dwi Puspitarini