Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

DPUPR Kaltim: Jembatan Mahulu Aman Dilalui, Tapi Berisiko Runtuh Jika Ditabrak Lagi

Eko Pralistio • Selasa, 6 Januari 2026 | 14:36 WIB

Ketiadaan fender atau pelindung Jembatan Mahulu  paling krusial saat ini. Sebab, tanpa fender, benturan langsung dari tongkang, terutama jika menghantam titik pusat struktur. (RAMA/KP)
Ketiadaan fender atau pelindung Jembatan Mahulu paling krusial saat ini. Sebab, tanpa fender, benturan langsung dari tongkang, terutama jika menghantam titik pusat struktur. (RAMA/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Penutupan alur Sungai Mahakam setelah dua kali tongkang bermuatan batu bara menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda, tidak mudah dilakukan meski tidak dilengkapi fender.

Di sisi lain, jika alur pelayaran tetap dibuka dan kecelakaan serupa kembali terjadi, jembatan yang setiap hari dilintasi kendaraan bertonase besar itu berpotensi mengalami kerusakan serius hingga runtuh.

Hasil investigasi Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim, pada kecelakaan tongkang 23 Desember 2025 silam, memastikan Jembatan Mahulu dinyatakan aman untuk dilalui kendaraan dari sisi darat.

Baca Juga: Tongkang Tabrak Jembatan Mahulu, Gubernur Kaltim Soroti Lemahnya Tata Kelola Sungai Mahakam

"Kalau untuk lalu lintas yang di atasnya bisa dinyatakan masih aman ya. Karena secara visual tidak ada pergeseran atau deformasi, secara geometrik juga tidak ada," ungkap Kepala DPUPR-Pera Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, Senin (5/1).

Namun, Aji mengaku belum melakukan uji beban maupun pengujian teknis lanjutan terhadap kondisi jembatan. "Penilain itu hasil dari uji secara visual. Dalam waktu dekat kita belum ada rencana uji lanjutan," sambungnya.

Aji menilai ketiadaan fender atau pelindung jembatan sebagai persoalan paling krusial saat ini. Sebab, tanpa fender, benturan langsung dari tongkang, terutama jika menghantam titik pusat struktur, berisiko besar menyebabkan keruntuhan.

Baca Juga: Pelindo dan KSOP Buka Suara soal Tabrakan Tongkang di Jembatan Mahulu

“Kalau proses ditabraknya kan ini macam-macam ya. Ada yang nyerempet, ada yang nyangkut dulu di fender baru menabrak, ada juga yang nyangkut dulu di rumah baru ke jembatan," timpal Aji.

"Kalau ditabrak secara langsung, tongkangnya ngikutin arus lurus kemudian menabrak di pusat vital jembatan, pasti ada pergeseran. Dan kemungkinan besar runtuh," imbuhnya.

Sebab, lanjut dia, Jembatan Mahulu hanya dirancang untuk menahan beban vertikal dari kendaraan di atasnya, bukan beban horizontal akibat tumbukan dari samping. Benturan kapal tidak masuk dalam perhitungan desain awal.

Baca Juga: Janji Perbaikan Fender Mahakam I Meleset, DPRD Kaltim Jadwalkan RDP

"Jembatan tidak didesain untuk menahan beban horizontal. Jadi kalau kena tumbukan dari samping, risikonya seperti itu (runtuh). Sejak awal yang diperhitungkan ditabrak oleh batang kayu," jelasnya.

Menurut Aji, dengan kondisi jembatan tanpa fender sebenarnya belum layak dilalui. Namun tetap dibuka dengan sejumlah pengamanan tambahan dari KSOP.

“Sebetulnya kami menilai tidak layak dilalui karena tidak ada fender. Tapi ada banyak pertimbangan, sehingga dilakukan pengamanan ekstra seperti penambahan pengawalan dan pandu,” pungkasnya. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Dinas PUPR Kaltim #Jembatan Mahulu #samarinda #jembatan mahulu ditabrak tongkang