KALTIMPOST.ID, Situasi di Iran kini tak lagi hanya menjadi urusan domestik. Gelombang demonstrasi besar yang telah menewaskan ratusan orang berubah menjadi pemicu ketegangan geopolitik, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan keras yang berpotensi mengguncang perekonomian global.
Pada Senin, Trump menyatakan telah memberlakukan tarif 25% terhadap barang-barang dari negara yang menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Kebijakan ini disebut langsung berlaku, meski tanpa penjelasan detail soal definisi “berbisnis dengan Iran”.
China, Uni Emirat Arab, India, dan Turki disebut sebagai mitra dagang utama Iran yang berpotensi terdampak kebijakan tersebut.
Melalui media sosial, Trump menegaskan langkah ini sebagai bagian dari tekanan maksimal terhadap Teheran, di tengah meningkatnya kekerasan dalam aksi protes.
Baca Juga: Diversifikasi Negara Tujuan Dinilai Penting agar Kinerja Ekspor Balikpapan Lebih Stabil
Tekanan ekonomi itu beriringan dengan sinyal militer. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa Washington belum menutup kemungkinan penggunaan kekuatan bersenjata.
“Opsi militer termasuk serangan udara masih dipertimbangkan,” kata Karoline Leavitt, dikutip dari pernyataan Gedung Putih, Senin.
Trump sendiri mengakui bahwa skenario paling ekstrem sedang dibahas serius oleh pemerintahannya.
“Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga sedang mempertimbangkannya. Kami sedang meninjau beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan,” ujar Trump kepada wartawan di Air Force One, Minggu (11/1), dikutip dari AFP.
Iran Tuduh Ada Skenario Asing di Balik Kekerasan Demo
Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding kekerasan dalam unjuk rasa sengaja dipicu untuk membuka jalan intervensi asing, terutama oleh Amerika Serikat.
“Kami siap untuk perang tetapi juga untuk dialog,” kata Abbas Araghchi kepada para diplomat asing di Teheran, Senin (12/1/2025).
Ia menilai peringatan Trump justru memotivasi kelompok tertentu untuk menciptakan kekacauan.
“Peringatan Trump tentang tindakan militer terhadap Teheran jika protes berubah menjadi kekerasan telah memotivasi ‘teroris’ menargetkan para demonstran dan pasukan keamanan untuk mengundang intervensi asing,” ujar Araghchi.
Iran juga mengklaim memiliki bukti konkret. “Iran memiliki rekaman distribusi senjata kepada para demonstran,” tambahnya, seraya menyebut pengakuan para tahanan akan segera dirilis.
Baca Juga: Kinerja Ekspor Balikpapan pada November 2025 Merosot, Sektor Ini yang Jadi Biang Kerok
Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap
Menurut kelompok HAM berbasis di AS, HRANA, lebih dari 500 orang tewas sejak demonstrasi pecah akhir Desember lalu.
“Korban tewas antara lain 490 pedemo dan 48 aparat keamanan,” lapor HRANA, dikutip dari Reuters.
HRANA juga mencatat lebih dari 10.600 orang ditangkap, sementara otoritas Iran belum mengumumkan angka resmi korban.
Reuters menyebut belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Baca Juga: IHSG Hijau Pagi Ini, Senin 12 Januari 2025, Tapi Ada Batas yang Bikin Investor Masih Hati-Hati
Israel Bersiap, Internet Iran Diputus
Di tengah situasi genting, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar rapat keamanan darurat.
Israel memilih tidak campur tangan secara terbuka, namun bersiaga terhadap kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Sejak Kamis (8/1), pemerintah Iran juga memutus internet nasional. Aksi protes dilaporkan meluas ke seluruh provinsi, dengan pembakaran gedung pemerintah dan fasilitas umum.
Iran memperingatkan AS dan Israel agar tidak ikut campur. Teheran bahkan mengancam akan menyerang Israel serta pangkalan dan kapal Amerika jika intervensi dilakukan.***
Editor : Dwi Puspitarini