KALTIMPOST.ID, Wacana Donald Trump, presiden Amerika Serikat (AS) yang ingin mengambil alih “Greenland” memicu ketegangan geopolitik global.
Ketertarikan Trump terhadap Greenland kembali disuarakan usai serangkaian langkah agresif kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.
Trump secara terbuka menyebut Greenland sebagai wilayah yang krusial bagi keamanan nasional AS. Keinginan Trump ini lantas ditolak secara tegas oleh Denmark, NATO, serta pemerintah dan rakyat Greenland sendiri.
Lantas, siapa sebenarnya pemilik Greenland, dan mengapa Washington begitu berambisi terhadap pulau es raksasa itu?
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan benua, terletak di kawasan Arktik dan secara geografis masuk Amerika Utara.
Meski demikian, wilayah ini telah berada di bawah kendali Denmark selama hampir 300 tahun.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Denmark, keterkaitan Greenland dengan Denmark berawal dari kedatangan bangsa Norse pada abad ke-10.
Kelompok Viking yang dipimpin Erik the Red menetap di Greenland bagian selatan pada sekitar tahun 1200-an.
Sejak saat itu, Greenland mulai terhubung secara politik dan budaya dengan wilayah Skandinavia.
Meski pemukiman Norse kemudian menghilang sekitar tahun 1500 Masehi, klaim dan pengaruh Denmark atas Greenland tetap berlanjut.
Kini status Greenland adalah wilayah semi-otonom dalam Kerajaan Denmark, dengan pemerintahan sendiri untuk urusan domestik. Adapun kebijakan luar negeri dan pertahanan tetap dipegang Kopenhagen.
"Greenland adalah milik rakyatnya, dan hanya Denmark serta Greenland yang dapat memutuskan masa depan hubungan mereka," demikian pernyataan bersama para pemimpin Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Denmark.
Kenapa Trump Ingin Ambil Alih Greenland dari Denmark?
Dalam sejarahnya, Amerika Serikat (AS) berulang kali mengungkapkan keinginan untuk merebut Greenland, kampanye pencaplokan ini kembali menguat setelah serangan AS ke Venezuela pada Sabtu (3/1) lalu yang memicu perhatian dunia internasional.
Hal ini bukan sekadar retorika politik, melainkan berkaitan erat dengan kepentingan strategis, keamanan, dan geopolitik global.
- Penting bagi Keamanan Nasional AS
Seperti dikutip dari CNN, Trump memandang Greenland sebagai wilayah yang sangat penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Letak Greenland dinilai strategis karena berada di jalur terpendek antara Eropa dan Amerika Utara, sekaligus menjadi titik krusial dalam sistem peringatan dini rudal balistik AS.
Selain itu, pencairan es akibat perubahan iklim membuka peluang jalur pelayaran baru dan akses terhadap sumber daya alam bernilai tinggi.
- Kunci Pengaruh di Kawasan Arktik
Dari laporan The Globe and Mail, AS juga melihat Greenland sebagai kunci pengaruh di kawasan Arktik yang semakin diperebutkan oleh negara-negara besar seperti Rusia dan China.
Greenland saat ini sudah menjadi lokasi pangkalan militer AS di Pituffik, yang berperan penting dalam sistem pertahanan dan radar Amerika.
- Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi jadi pertimbangan. Greenland diketahui menyimpan potensi mineral, minyak, gas, serta rare earth minerals yang penting bagi teknologi dan industri pertahanan masa depan.
Seiring mencairnya lapisan es, sumber daya tersebut akan semakin mudah diakses, meningkatkan nilai strategis pulau tersebut.
Dapat Penolakan Keras
Gagasan Trump dapat penolakan keras. Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menyebutnya sebagai "fantasi".
"Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi sindiran aneksasi. Kami terbuka untuk dialog, tapi harus menghormati hukum internasional," ujarnya.
Sentimen publik di Greenland juga jelas. Mayoritas warga, yang berjumlah sekitar 56.000 jiwa dan sebagian besar suku Inuit, mendukung kemerdekaan dari Denmark dalam jangka panjang, tetapi menolak menjadi bagian dari AS.
"Ini ide yang sangat berbahaya. Kami diperlakukan seperti barang yang bisa dibeli," kata Aleqa Hammond, mantan perdana menteri Greenland.
Reaksi NATO
Bagi NATO, keinginan Trump dinilai berisiko memecah aliansi. PM Denmark Mette Frederiksen bahkan memperingatkan bahwa upaya sepihak atas Greenland dapat "mengakhiri NATO".
Dengan posisi strategis, kepentingan militer, dan kekayaan sumber daya, Greenland memang menjadi rebutan pengaruh di Arktik.
Namun, secara hukum dan politik, pulau itu tetap berada di bawah kedaulatan Denmark dan hak menentukan nasib sendiri rakyat Greenland, bukan komoditas yang bisa diambil alih sepihak, bahkan oleh kekuatan sebesar AS.
Editor : Hernawati