KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Kerlip cahaya yang menghiasi kegelapan malam di balik rimbunnya ilalang bukanlah sekadar estetika alam. Fenomena ini adalah bahasa komunikasi kuno yang telah ada sejak era dinosaurus.
Sara Lewis, pakar ekologi evolusi dari Tufts University, masih mengingat jelas bagaimana ratusan cahaya kecil menari di halaman rumahnya puluhan tahun silam, sebuah momen magis yang memicu riset panjangnya terhadap keluarga kumbang Lampyridae.
Keluarga serangga ini telah menghuni bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang menjadi sekitar 2.000 spesies.
Namun, keajaiban yang menjadi memori masa kecil banyak orang ini kini berada di ambang kepunahan.
Meskipun mampu bertahan melewati berbagai krisis purba, eksistensi kunang-kunang kini justru terdesak oleh dampak peradaban manusia modern.
Baca Juga: Balikpapan Tambah 465 Guru PJLP, Disdikbud Yakin Masalah Kekurangan Guru Teratasi
Berdasarkan laporan dari Xerces Society for Invertebrate Conservation, ancaman yang dihadapi serangga ini sangatlah pelik.
Beberapa faktor penyebab utamanya adalah kehancuran habitat. Ini merupakan ancaman yang paling mematikan.
Di Asia Tenggara, misalnya, pembukaan lahan sawit di bantaran sungai telah merusak ekosistem bakau.
Padahal, larva kunang-kunang dari genus Pteroptyx sangat bergantung pada lumpur bakau yang stabil untuk tumbuh sebelum menjadi dewasa.
Polusi cahaya yaitu lampu buatan manusia bertindak sebagai "pengganggu komunikasi" yang fatal.
Penelitian dalam jurnal Ecology and Evolution mengungkapkan bahwa cahaya lampu mengacaukan sinyal perkawinan antara jantan dan betina, sehingga menghambat proses regenerasi mereka.
Baca Juga: Prediksi FC Bekasi City vs Sriwijaya FC Sore Ini: Misi Sulit Laskar Wong Kito
Penyebab lainnya adalah paparan kimia dan pestisida. Larva kunang-kunang yang hidup di tanah sangat rentan terhadap residu pestisida.
Racun ini sering kali membunuh mereka bahkan sebelum mereka sempat mengepakkan sayap untuk kali pertama.
Eksploitasi komersial juga menjadi penyebab. Perdagangan serangga dalam skala masif turut memperburuk keadaan.
Sebagai contoh, festival serangga di Tiongkok pernah mencatat perdagangan hingga belasan juta ekor kunang-kunang yang diambil langsung dari habitat aslinya.
Kini, pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengubah pola aktivitas kita demi menjaga agar sisa-sisa cahaya alami ini tidak padam untuk selamanya?(*)
Editor : Thomas Priyandoko