Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Belajar dari Gagalnya BBG, Akademisi Ingatkan Bus Listrik Kaltim Harus Didukung Ekosistem Lengkap

Muhammad Ridhuan • Minggu, 18 Januari 2026 | 08:35 WIB

 

Bus Bacitra yang melayani warga di Balikpapan. Saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)
Bus Bacitra yang melayani warga di Balikpapan. Saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID-Transformasi transportasi massal bukan tanpa preseden kegagalan. Program bahan bakar gas (BBG) sebelumnya berhenti di tengah jalan karena tidak didukung ekosistem yang memadai.

Harihanto menyebut ada tiga pilar utama agar program bus listrik tidak bernasib sama. Pertama, ketersediaan pusat servis dan suku cadang resmi dari agen pemegang merek (APM).

Kedua, pelatihan mekanik lokal untuk menangani sistem kelistrikan tegangan tinggi. Ketiga, standardisasi alat pengisian daya.

“Transisi energi juga harus menjadi transisi ekonomi yang adil. Mekanik angkutan konvensional harus dilatih, bukan ditinggalkan,” ujarnya.

Putra juga menilai dampak bus listrik tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga ekonomi dan citra daerah.

Jika Samarinda, Balikpapan, dan Bontang mampu mengonversi 50 persen armada transportasi massal ke listrik pada 2030, penghematan devisa dari BBM bersubsidi akan signifikan.

“Secara citra, Kaltim bisa menjadi provinsi pertama yang benar-benar menyelaraskan transportasi daerah penyangga dengan standar hijau IKN,” katanya.

Dari sisi sosial, transportasi publik yang senyap, nyaman, dan berpendingin udara diyakini mampu mengangkat martabat angkutan umum dan menarik minat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

Harihanto dan Putra sepakat bahwa langkah awal paling realistis adalah membangun proyek percontohan bus listrik pada satu trayek utama di masing-masing kota selama satu tahun penuh.

Data konsumsi energi, biaya operasional, dan respons masyarakat harus menjadi dasar kebijakan lanjutan.

Selain itu, penguatan atau pembentukan BUMD transportasi dinilai penting agar infrastruktur pengisian daya tidak sepenuhnya bergantung pada pihak ketiga.

Pemerintah daerah juga didorong melakukan kampanye masif penggunaan bus listrik, termasuk dengan mendorong ASN dan pelajar menjadi pengguna awal.

“Transportasi massal berbasis EBT tidak cukup hanya tersedia. Ia harus dipakai, dan pemerintah perlu menjadi contoh sekaligus penggerak,” pungkas Putra.

Kaltim Post berupaya mencari informasi terkait perkembangan bus di Kaltim ke Dishub Kaltim. Kepala Dishub Kaltim Yusliando yang dihubungi awak media menyebut bisa mencari informasi tersebut kepada Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Heru Santosa. Namun hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan dari Heru.

Adapun terkait konversi bahan bakar ke Dinas ESDM Kaltim, Kepala ESDM Kaltim Bambang Arwanto belum bisa diwawancarai karena masih berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.

“Izin sedang ibadah umrah, Mas,” singkat Bambang melalui pesan WhatsApp, Kamis (15/1). (rdh/rd)

Editor : Romdani.
#Balikpapan City Trans 2025 #penajam paser utara #ibu kota nusantara #angkutan massal #Kutai Barat #bus listrik