Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Orangutan hingga Kucing Merah: Daftar Satwa Langka yang Ditemukan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Dina Angelina • Senin, 19 Januari 2026 | 14:06 WIB
HABITAT: Kamera jebak menangkap potret Beruang Madu di bentang alam Wehea-Kelay
HABITAT: Kamera jebak menangkap potret Beruang Madu di bentang alam Wehea-Kelay

KALTIMPOST.ID – Peneliti berhasil menemukan berbagai satwa langka di Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur. Ini kabar gembira agar bisa secepatnya dilakukan antisipasi untuk menjaga satwa dari ancaman punah.

Temuan ini berdasarkan penelitian kolaboratif antara Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Di antaranya temuan Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus Morio), Lutung Kutai (Presbytis Canicrus), Rangkong Gading (Rhinoplax Vigil), Trenggiling (Manis Javanica).

Selanjutnya Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Bangau Storm (Ciconia Stormi), Macan Dahan (Neofelis Diardi), dan Kucing Merah (Catopuma Badia). Ini disampaikan pada Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay.

Rektor Universitas Mulawarman Abdunnur mengatakan, temuan beragam satwa langka ini ibarat angin segar. Apalagi di saat kondisi marak informasi tentang kerusakan dan degradasi hutan.

“Ini menumbuhkan optimisme untuk perbaikan kawasan hutan, khususnya Kalimantan,” tuturnya. Penemuan berbagai satwa langka ini berangkat dari penelitian tematik biodiversitas di Bentang Alam Wehea-Kelay pada 2025.

“Sekaligus menjadi contoh bagaimana pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan multipihak dan multidisiplin dapat melindungi hutan dari ancaman degradasi,” ungkapnya.

Hasil penelitian mengidentifikasi 1.618 jenis flora dan fauna. Ada pun 38 persen dari jumlah tersebut merupakan mamalia terestrial. Selanjutnya 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi.

Lalu terdapat 88 jenis serangga dari taksa kupu-kupu dan kumbang sungut. Serta 987 jenis tumbuhan hutan. Seperti diketahui, Wehea-Kelay merupakan bentang alam di luar kawasan konservasi.

Namun dari total luas 532.143 hektare, kini hanya 19 persen yang berstatus hutan lindung. Sisanya ada yang berupa konsesi kehutanan, perkebunan, dan area kelola masyarakat.

Padahal kawasan Wehea-Kelay memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Termasuk menjadi habitat satwa langka yang hampir punah seperti orangutan.

Peneliti Ahli Utama BRIN Tri Atmoko menuturkan, salah satu metode penelitian melalui pemantauan satwa liar dan tumbuhan. Serta penggunaan teknologi kamera jebak dan perekam suara Bioakustik.

“Temuan terbaru ini menambah 275 jenis flora dan fauna,” sebutnya. Itu jika dibandingkan dengan penelitian serupa yang mencatat sebanyak 1.343 jenis pada 2016 lalu.

Ada beberapa faktor pendukung keberhasilan penelitian. Tak hanya dari sisi metode yang lebih baik. Namun terpenting dukungan dari pihak-pihak berkepentingan di Wehea-Kelay.

“Semua mempunyai komitmen, visi, dan misi yang sama terkait dengan pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ini,” pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
#rangkong gading #ykan #Wehea Kelay #orang utan #satwa langka #konservasi #BRIN #kaltim post #Universitas Mulawarman #kaltim #Kucing Merah #beruang madu #Bentang alam