Dalam pernyataannya di media sosial X, Senin, 19 Januari 2026, SBY mengaku khawatir situasi internasional bergerak ke arah yang semakin mengerikan. Menurut dia, ruang untuk mencegah bencana global itu kian menyempit seiring berjalannya waktu.
SBY membandingkan kondisi global saat ini dengan periode menjelang Perang Dunia I dan II. Ia menilai terdapat pola yang serupa, mulai dari munculnya pemimpin negara besar yang agresif, pembentukan aliansi yang saling berhadapan, hingga perlombaan penguatan militer dan kesiapan ekonomi perang.
Ketegangan internasional, kata SBY, kini terjadi di berbagai kawasan. Konflik Rusia-Ukraina masih berlangsung di Eropa, sementara kekerasan terus berlanjut di Timur Tengah meski terdapat upaya gencatan senjata.
Di kawasan lain, Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump memicu polemik setelah melancarkan serangan ke Venezuela dan menyatakan ambisi untuk mengambil alih Greenland.
Sejumlah lembaga intelijen Barat juga memperkirakan potensi konflik antara Cina dan Taiwan dalam beberapa tahun ke depan.
SBY menilai tanda-tanda menuju konflik global sudah terlihat jelas, namun respons komunitas internasional dinilainya belum memadai.
Ia mempertanyakan rendahnya kesadaran dan langkah konkret negara-negara dunia untuk menghentikan eskalasi tersebut.
“Entah karena tidak peduli, tidak berdaya, atau memang tidak mampu,” ujar SBY.
Ia menegaskan harapan semata tidak cukup untuk mencegah perang, terlebih jika melibatkan senjata nuklir yang dampaknya bisa menghancurkan peradaban manusia. Karena itu, SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil peran lebih aktif.
SBY mengusulkan PBB segera menggelar Sidang Umum Darurat dengan menghadirkan para pemimpin dunia guna membahas langkah nyata pencegahan krisis global.
Meski mengakui kewenangan PBB saat ini terbatas, ia berharap lembaga internasional tersebut tidak dicatat sejarah sebagai pihak yang berdiam diri di tengah ancaman besar.
“Sekecil apa pun peluangnya, dunia masih bisa diselamatkan jika ada kemauan untuk berbicara dan bertindak bersama,” kata dia.
Editor : Uways Alqadrie