KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisnas) ke Kaltim yang dicatatkan Badan Pusat Statistik (BPS) tak serta merta membuat pelaku usaha wisata girang.
Sebab mereka menilai kunjungan itu lebih didominasi pekerja, bukan wisatawan yang benar-benar ingin liburan di Bumi Etam.
Pemilik Trans Borneo Tours and Travel, Joko Purwanto, mengungkapkan secara kumulatif jumlah wisatawan asing ke Kaltim justru mengalami penurunan sekitar 5 persen dibandingkan 2024.
Penurunan ini terutama berasal dari segmen wisatawan petualangan asal Eropa dan Amerika yang selama ini menjadi pasar utama ekowisata di wilayah pedalaman.
“Wisatawan Eropa dan Amerika yang biasanya minat bertualang dan menikmati ekowisata di Kaltim itu berkurang. Bukan karena potensi kita jelek, tapi biaya sekarang mahal, transportasi darat lama, bisa tiga sampai empat jam, wisatawan jadi jenuh di jalan,” kata Joko, Selasa (20/1).
Ia menjelaskan, data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menunjukkan kenaikan jumlah orang asing yang masuk ke Kaltim.
Namun, kenaikan tersebut didominasi oleh tenaga kerja asing yang datang untuk bekerja, bukan untuk berwisata. “Orang asing masuk naik, tapi itu orang bekerja. Secara turisme justru turun,” ungkapnya.
Sementara itu, wisatawan domestik justru menunjukkan tren kenaikan sekitar 10 persen, yang menurut Joko tak lepas dari keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun peningkatan ini belum mampu menutup penurunan wisatawan mancanegara, terutama dari segmen high spending. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus memutar arah.
Dia juga menyebut, sekitar 90 persen tamu wisatawan asing saat ini justru mengarah ke Kalimantan Tengah, terutama kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. “Pasar ekowisata lebih siap di sana, penerbangannya lebih pasti, paketnya lebih mudah dijual,” jelasnya.
Joko menilai, tanpa pembenahan strategi dan kepastian akses, penurunan wisatawan asing berpotensi berlanjut. “Potensinya ada, tapi arah pasarnya harus jelas. Kalau tidak, kita hanya akan melihat angka masuk orang asing naik, tapi pariwisatanya kosong,” tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo