KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda, kembali ditabrak kapal tongkang batu bara pada Minggu (25/1/2026). Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kejadian serupa yang melibatkan armada angkutan batu bara.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, merasa resah dengan alasan otoritas kepelabuhanan atas peristiwa yang sudah berkali-kali terjadi itu. "Sebenarnya ini alasan klasik, dan itu urusan mereka. Urusan kita adalah, bagaimana jembatan kita aman. KSOP kita minta segera melakukan investigas bersama pelindo, jembatan kita tutup untuk alat berat," jelasnya, Senin (26/1).
Seno menegaskan untuk sementara kendaraan bertonase besar tidak diperbolehkan lewat sampai dengan hasil investigasi selesai. Di sisi lain, karena peristiwa itu sudah sering terjadi, Pemprov Kaltim, kata Seno, akan menempuh jalur hukum.
Baca Juga: Tambatan Diduga Ilegal di Kasus Tongkang Tabrak Jembatan Mahulu Samarinda, Polisi Ungkap Fakta Baru
"Jadi, kita akan laporkan secara pidana dan perdata. Itu tugas dan fungsi kita, karena ini aset provinsi. Perdatanya tentu ganti rugi penabrakan, pidananya adalah lalai dalam hal mengamankan tongkang tersebut," bebernya.
Sebab, lanjut dia, aktivitas tongkang diduga diluar jam pengolongan dan kondisi kapal saat itu sedang tambat jauh dari sisi hulu mahakam. Sebelumnya, Nahkoda Kapal Patroli KSOP Samarinda KNP-373, Galang Nuswantoro, melaporkan bahwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 05.10 Wita.
Dalam laporan resmi kepada pimpinananya, Galang menyebut tongkang TB Atlantic Star 23 menabrak buoy yang sebelumnya ditambat oleh TB Marina 1631 yang menggandeng BG Marine Power 3066, serta TB Karya Star 67 yang menarik BG Bintang Timur 03.
Baca Juga: Jembatan Mahulu Samarinda Ditabrak Lagi, Tambatan Ilegal Diduga Punya Aparat Penegak Hukum
“Dugaan sementara, tali buoy tambat putus sehingga buoy dan tongkang hanyut,” ujar Galang dalam laporannya, Minggu (25/1/2026). Situasi memburuk ketika tali second towing dari TB Marina 1631 turut putus. Akibatnya, BG Marine Power 3066 hanyut dan menempel pada safety fender Jembatan Mahakam Ulu.
Untuk mencegah dampak yang lebih besar, proses evakuasi dilakukan oleh kapal asistensi Herlin II, Mangku Jenang, dan DL 036.
Evakuasi dimulai sekitar pukul 07.00 Wita dan dinyatakan selesai pada pukul 08.00 Wita. Setelah itu, BG Marine Power 3066 ditarik ke lokasi yang dinilai lebih aman untuk menghindari risiko lanjutan terhadap struktur jembatan dan lalu lintas sungai. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki