Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

‘Kuyank’ Sambangi Kantor Kaltim Post; Sutradara Siapkan Kisah Urban Legend asal Samarinda di Skuel Saranjana

Nasya Rahaya • Selasa, 27 Januari 2026 | 19:13 WIB

KULTUR ETNIS: Sutradara dan sejumlah pemain film ‘Kuyank’ menyambangi kantor Kaltim Post Samarinda, Selasa (27/1).
KULTUR ETNIS: Sutradara dan sejumlah pemain film ‘Kuyank’ menyambangi kantor Kaltim Post Samarinda, Selasa (27/1).
 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Film Kuyank, prekuel dari Saranjana: Kota Gaib, melanjutkan rangkaian promosi nasional dengan menggelar roadshow di Samarinda. Sebelumnya mereka sudah menyambangi 18 kota di Indonesia. Roadshow kali ini dijadwalkan berlangsung di Kantor Kaltim Post Samarinda, Selasa (27/1), sekaligus menjadi momentum mendekatkan film berbasis folklor Kalimantan itu dengan publik daerah asalnya.

Dalam roadshow tersebut, sejumlah pemain turut hadir, di antaranya Jolene Marie, Dayu Wijanto, dan Daulat. Film Kuyank sendiri dijadwalkan rilis serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 29 Januari 2026.

Disutradarai Johansyah Jumberan, sineas asal Kalimantan, film ini diproduksi oleh Darihati Films dan menjalani proses syuting di berbagai wilayah Kalimantan. Produksi film melibatkan pelaku seni serta warga lokal, dengan mengangkat folklor dan kultur etnis Banjar sebagai fondasi cerita.

Johansyah menilai, minimnya representasi budaya Kalimantan di layar lebar masih menjadi persoalan sinema nasional. Dari ratusan film yang beredar setiap tahun, hanya sedikit yang mengambil latar budaya di luar Pulau Jawa.

“Dari ratusan film yang diputar dari Sabang sampai Merauke, sangat sedikit yang menyentuh budaya di luar Jawa. Sinema kita masih didominasi Jawa, Jakarta, dan sekitarnya,” ujarnya.

Ia mengaku kerap merasa sinis melihat kondisi tersebut. Namun alih-alih berhenti berkarya, kondisi itu justru dijadikannya sebagai dorongan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas film-film yang digarapnya. Kritik, menurut Johansyah, menjadi bahan evaluasi agar karya berikutnya lebih matang.

Karena itu, ia berharap Kuyank tidak hanya tampil sebagai film horor dengan kualitas nasional, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan. Film ini bahkan menggunakan bahasa Banjar, yang diharapkan dapat diterima luas hingga ke tingkat internasional.

“Harapannya, masyarakat Kalimantan bisa dengan bangga merekomendasikan film ini. Bahwa ada film berbahasa Banjar dengan kualitas yang tidak kalah,” katanya.

Cerita Kuyank sendiri membawa horor yang berangkat dari konflik manusia. Berlatar tujuh tahun sebelum gerbang kota gaib Saranjana terbuka, film ini mengisahkan Rusmiati, perempuan kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang, yang nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Tekanan adat dan keluarga kian memuncak ketika rumah tangga itu tak kunjung dikaruniai anak.

Terimpit rasa takut kehilangan suami dan martabat, Rusmiati kemudian memilih jalan gelap dengan mempelajari ajian Kuyang, ilmu hitam kuno yang diyakini memberi kecantikan dan keabadian. Namun keputusan tersebut justru memicu rangkaian teror, dengan bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius, hingga identitas Rusmiati perlahan terkuak dan kemarahan warga tak terbendung.

Tak berhenti di film Kuyank, Johansyah juga secara terbuka membocorkan arah pengembangan Saranjana Universe ke depan. Ia mengungkapkan, di dalam Kuyang telah disisipkan petunjuk tentang Hantu Banyu, salah satu folklor Kalimantan yang akan menjadi fokus cerita berikutnya.

“Di film Kuyang sebenarnya sudah ada ‘spill’ tentang Hantu Banyu. Saranjana Universe memang akan membawa berbagai folklor Kalimantan. Salah satu yang akan kami garap adalah Hantu Banyu, dengan rencana lokasi syuting di Sungai Mahakam,” ujar Johansyah.

Ia menjelaskan, pengembangan cerita akan dibuat berkelanjutan layaknya rangkaian peristiwa yang saling terhubung. “Alurnya akan seperti rangkaian event. Dari Saranjana, ke Kuyank, kemudian berlanjut ke Saranjana 2, yang nantinya membawa kisah Hantu Banyu,” katanya.

Seluruh semesta cerita tersebut, menurut Johansyah, tetap berangkat dari budaya Kalimantan, namun dikemas melalui kolaborasi pemain nasional dan lokal, dengan komitmen melibatkan talenta daerah dalam setiap proyeknya. (dwi)

Editor : Duito Susanto
#budaya kalimantan #film indonesia #jolene marie #Kota Gaib #kaltim post #Saranjana Universe #Film Kuyank