Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Percepat Penanganan Darurat, Pemprov Kaltim Bentuk 14 Kampung Siaga Bencana

Bayu Rolles • Rabu, 28 Januari 2026 | 23:20 WIB

Selain melakukan penyelamatan, Kampung Siaga Bencana juga berfungsi sebagai lumbung logistik.
Selain melakukan penyelamatan, Kampung Siaga Bencana juga berfungsi sebagai lumbung logistik.

KALTIMPOST.ID, Pemprov Kaltim tengah mendorong penguatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam atau pun sosial. Ke depan, setiap kabupaten/kota ditarget memiliki Kampung Siaga Bencana (KSB), terutama di wilayah yang selama masuk kategori rawan.

KSB ini nantinya bukan sekadar ruang aktivitas personel Taruna Siaga Bencana (Tagana). Tapi juga jadi simpul mendorong partisipasi aktif masyarakat setempat dalam penanganan bencana sejak tahap paling awal.

Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kaltim, Arif Maulana, menilai keberadaan KSB krusial dalam merespons situasi darurat. Dalam praktik kebencanaan, ada istilah yang disebut golden time atau periode krusial di awal kejadian yang bakal memengaruhi keberhasilan evaluasi serta menekan dampak yang muncul.

Baca Juga: Balikpapan Utara Prioritaskan Penataan Drainase dan Air Baku untuk Mitigasi Bencana

“Selain melakukan penyelamatan, KSB juga berfungsi sebagai lumbung logistik. Dengan begitu, kebutuhan dasar korban bencana dapat dipenuhi secara mandiri di lokasi, sebelum bantuan dari pusat tiba,” ujarnya Selasa, 27 Januari 2026.

Saat ini terdapat 14 KSB yang sudah telah dibentuk dan tersebar di sejumlah wilayah strategis di Kaltim, seperti Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara (PPU), Paser, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.

Seluruh KSB tersebut dilaporkan aktif berkontribusi, mulai dari penanganan kebakaran permukiman hingga upaya pencarian korban tenggelam.

Baca Juga: Waspada Bencana Hidrometeorologi, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Kaltim hingga 10 Januari

Pembentukan KSB diprioritaskan pada kawasan rawan bencana, dengan syarat terdapat unsur relawan Tagana di dalamnya. Para relawan Tagana sendiri diwajibkan memiliki tiga kemampuan dasar, yakni pengelolaan dapur umum, keterampilan mendirikan tenda darurat, serta pemberian dukungan psikososial bagi para penyintas.

Pemerintah juga secara berkala melakukan evaluasi terhadap kinerja Tagana. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja kemanusiaan yang dijalankan tanpa imbalan gaji, pemerintah memberikan tali asih.

“Mereka ini betul-betul relawan yang terjun langsung di masyarakat. Merekalah garda terdepan dalam penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga saat musibah terjadi,” pungkasnya. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#kampung siaga bencana #pemprov kaltim