Insiden tersebut terjadi pada Kamis (29/1/2026). Korban ditemukan tidak bernyawa di sekitar pondok sederhana milik neneknya. Kasus ini langsung menyita perhatian publik karena diduga berkaitan dengan keterbatasan ekonomi yang dialami keluarga korban.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah berupa buku tulis dan pena. Namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi lantaran sang ibu tidak memiliki uang saat itu.
Nominal yang dibutuhkan memang relatif kecil, namun bagi keluarga korban yang hidup dalam keterbatasan, kebutuhan tersebut menjadi beban berat. Kondisi ini diduga membuat korban merasa putus asa.
Ibu korban, MGT, diketahui merupakan seorang janda yang menanggung nafkah lima orang anak. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai petani sekaligus buruh harian dengan penghasilan tidak menentu.
Selama ini, YBS tinggal terpisah dari ibunya dan memilih menetap di pondok neneknya guna meringankan beban ekonomi keluarga. Malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumah ibunya dan keesokan harinya diantar kembali ke pondok menggunakan jasa ojek.
Menurut keterangan keluarga, MGT sempat berpesan kepada anaknya agar tetap rajin bersekolah dan memahami kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Korban pertama kali ditemukan warga sekitar pada pukul 11.00 Wita. Aparat kepolisian setempat telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan masih mendalami penyebab pasti kematian korban, termasuk kemungkinan adanya faktor lain di luar dugaan awal.
Peristiwa ini memicu keprihatinan luas dan kembali menyoroti persoalan kemiskinan serta akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya di wilayah terpencil.
Kasus tersebut juga menjadi pengingat pentingnya kehadiran negara dalam memastikan tidak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Editor : Uways Alqadrie