KALTIMPOST.ID, Rencana besar penguatan infrastruktur jalan di Kalimantan Timur kini tak lagi mulus. Pengadaan lampu jalan, rambu lalu lintas, hingga marka pengaman kembali dihadapkan dengan masalah anggaran.
Efisiensi fiskal memaksa laju pembangunan ditahan, bahkan untuk proyek-proyek yang selama ini dianggap krusial. Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, mengakui kebijakan penghematan anggaran dari pemerintah pusat berdampak langsung pada pembangunan jalan, baik yang berstatus nasional maupun provinsi.
Kondisi itu membuat sejumlah program infrastruktur harus ditimbang ulang agar tetap sejalan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Baik jalan nasional maupun provinsi sama-sama terdampak. Dengan kondisi anggaran seperti sekarang, pembangunan tidak bisa dipaksakan kalau dananya memang belum tersedia,” kata Abdulloh beberapa waktu lalu.
Meski begitu, dokumen perencanaan Dinas Perhubungan Kaltim tahun anggaran 2025 masih memuat puluhan paket kegiatan yang berkaitan dengan perlengkapan keselamatan dan penerangan jalan.
Fokusnya mencakup pengadaan dan pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU), baik konvensional maupun berbasis tenaga surya, rambu lalu lintas, marka jalan, hingga pagar pengaman di sejumlah ruas strategis.
Untuk Kota Samarinda, misalnya, direncanakan pemasangan 393 unit PJU tenaga surya dan 56 unit PJU konvensional. Kabupaten Kutai Kartanegara tercatat sebagai daerah dengan kebutuhan tertinggi, dengan rencana pemasangan 1.158 unit PJU tenaga surya.
Kutai Timur diproyeksikan menerima 360 unit, disusul Berau dengan 300 unit. Kota Balikpapan dan Bontang masing-masing direncanakan mendapat 250 dan 200 unit PJU.
Seluruh rencana itu disusun untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan, terutama di kawasan dengan tingkat mobilitas tinggi.
Tak hanya penerangan, Pemprov Kaltim juga menargetkan peningkatan keselamatan lalu lintas lewat pengadaan rambu dalam skala besar. Sekitar 9.000 unit rambu lalu lintas direncanakan tersebar di berbagai daerah, mulai dari Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga Samarinda, Balikpapan, dan Bontang. Namun, realisasi seluruh rencana itu tetap bergantung pada seberapa kuat anggaran mampu menopangnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki