Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Banjir Kembali Kepung Sangatta, Kawasan Bantaran Sungai Jadi Titik Terparah

Jufriadi • Jumat, 6 Februari 2026 | 14:14 WIB
TERGENANG: Kondisi banjir di Jalan Gunung Teknik, Gang Tepian Teknik, Desa Sangatta Selatan, Kutim, dengan ketinggian air mencapai leher orang dewasa, Jumat (6/2).
TERGENANG: Kondisi banjir di Jalan Gunung Teknik, Gang Tepian Teknik, Desa Sangatta Selatan, Kutim, dengan ketinggian air mencapai leher orang dewasa, Jumat (6/2).

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Banjir kembali melanda wilayah Sangatta sejak Kamis (5/2) sore. Hingga kini, genangan air masih terlihat di sejumlah lokasi. Data awal menunjukkan di Sangatta Utara, ada sekitar 22 titik yang tergenang. Sementara di Sangatta Selatan, tercatat sekitar 15 titik terdampak.

Ketinggian air bervariasi, mulai setinggi betis orang dewasa hingga yang terparah di Jalan Gunung Teknik, Gang Tepian Teknik, Desa Sangatta Selatan, di mana air dapat mencapai leher orang dewasa. Kondisi ini terjadi karena kawasan tersebut berada di bantaran sungai.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, menyampaikan bahwa tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi penyebab utama banjir kembali meluas di Sangatta.

Untuk merespons kondisi tersebut, BPBD menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke sejumlah lokasi yang dianggap berisiko, mencakup kawasan bantaran sungai hingga wilayah pertambangan.

“Mayoritas yang terdampak berada di bantaran sungai, sementara genangan di tengah kota terjadi karena sistem drainase,” ujar Sulastin, Jumat (6/2).

Ia menuturkan, perkembangan genangan air terus bergerak naik-turun dalam waktu relatif singkat sehingga pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Kemarin kita lihat air sempat naik beberapa senti, tiga jam kemudian turun, lalu naik lagi. Karena itu kami terus lakukan pemantauan,” jelasnya.

Selain TRC, BPBD Kutim juga menggandeng relawan kecamatan dan OPD teknis untuk mempercepat penanganan di titik-titik terdampak.

Banjir juga dilaporkan terjadi di lingkungan pertambangan, termasuk di area operasional PAMA. Genangan yang muncul sempat mengganggu aktivitas pekerja dan akses kendaraan.

“Untuk wilayah tambang juga sudah kita tugaskan tim. Saat ini kami masih menunggu laporan lengkap dari lapangan,” ungkapnya.

Menurut Sulastin, kondisi di area tambang diperburuk oleh keberadaan galian yang belum direklamasi sehingga air hujan mudah mengumpul dan sulit mengalir keluar.

“Masih banyak galian yang utuh dan belum dilakukan reboisasi. Saat hujan lebat, air tergenang karena tidak ada saluran pembuangan,” terangnya.

BPBD Kutim akan memperluas koordinasi dengan berbagai OPD dan perusahaan tambang untuk merancang penanganan jangka pendek dan strategi mitigasi jangka panjang.

“Ini bukan hanya tanggung jawab BPBD. Kami juga akan berkoordinasi dengan OPD terkait dan pihak perusahaan,” kata Sulastin.

Ia mengingatkan bahwa berdasarkan peringatan dini BMKG, intensitas hujan pada Februari hingga Maret diproyeksikan tetap tinggi.

“Karena itu kami sudah menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar selalu waspada,” ujarnya.

Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dihimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan berlangsung dalam durasi panjang. BPBD memastikan pemantauan dilakukan terus menerus hingga situasi kembali stabil. (*)

Editor : Duito Susanto
#banjir sangatta #BPBD Kutai Timur #sangatta utara #bantaran sungai #kutai timur #Sangatta Selatan