KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN–Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, mengisyaratkan langkah tegas untuk menghentikan aktivitas tongkang batu bara di sejumlah anak Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Langkah itu diambil menyusul kondisi populasi Pesut Mahakam yang kian terancam punah dengan catatan hanya tersisa 66 ekor di habitat aslinya.
Jumlah pesut yang terus menurun dan terancam punah akhirnya menjadi perhatian pemerintah pusat. Termasuk dengan kondisi Pesut Mahakam di Kalimantan Timur.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol beserta jajaran dijadwalkan berkunjung ke Sungai Mahakam Samarinda, Sabtu (7/2). Mereka ingin melihat potensi gangguan terhadap ekosistem pesut mahakam.
Hanif akan hadir bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan, gubernur Kaltim, dan instansi terkait. Sehingga merumuskan langkah penting demi menjaga habitat Pesut Mahakam.
“Termasuk kemungkinan menghentikan penggunaan sungai-sungai kecil sebagai sarana angkutan tongkang bat bara,” ungkapnya. Data Kementerian Lingkungan Hidup, ada dua sungai utama habitat pesut yang masih marak dilewati tongkang batu bara.
“Padahal sungai itu masuk dinyatakan sungai konservasi berdasarkan KKP,” sebutnya. Selain itu, sungai memiliki lebar yang tidak boleh dilewati tongkang sesuai peraturan menteri perhubungan.
“Kami akan memastikan dan akan imbau agar mereka mengakhiri aktivitasnya (tongkang batubara),” tegasnya. Pihaknya siap mengambil langkah tindakan hukum untuk menjaga populasi Pesut Mahakam.
“Ini satu-satunya populasi pesut air tawar di Indonesia, jumlahnya tinggal 66 ekor,” sebutnya.
Dia mengakui dulu Pesut masih banyak ditemukan di tepian Mahakam tahun 90-an. Ketika kondisi sungai terjaga dengan baik.
Sedangkan catatan terbaru hanya ada tujuh kelahiran dan tiga kematian Pesut. “Perlu upaya penyelamatan agar habitat Pesut tetap lestari dengan tim gabungan,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A