Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Babak Baru Diplomasi di Muscat, Negosiasi Iran-AS Berakhir dengan Sinyal Positif

Ari Arief • Sabtu, 7 Februari 2026 | 11:40 WIB

Ilustrasi bendera AS dan Iran
Ilustrasi bendera AS dan Iran

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Upaya meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase krusial setelah keduanya menyelesaikan dialog tidak langsung di Oman, Jumat (6/2/2026).

Pertemuan yang berlangsung di tengah meningkatnya ancaman militer ini memberikan hasil yang cukup mengejutkan bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menggambarkan pertemuan di Muscat tersebut sebagai sebuah "permulaan yang positif".

Meski dibayangi oleh krisis kepercayaan yang mendalam selama bertahun-tahun, kedua belah pihak sepakat untuk terus melanjutkan jalur diplomasi guna mencari solusi atas sengketa nuklir Teheran.

"Kami telah mendiskusikan kerangka kerja untuk negosiasi selanjutnya. Meskipun tantangan besar berupa rasa tidak percaya masih ada, atmosfer pembicaraan kali ini terasa sangat positif," ungkap Araghchi kepada media pemerintah Iran.

Baca Juga: Redam Ketegangan, Trump Klaim Jalin Komunikasi dengan Pemimpin Iran

Poin-Poin Utama Perundingan

Beberapa poin penting yang mencuat dalam negosiasi kali ini antara lain, yaitu fokus nuklir. Iran tetap bersikeras agar pembicaraan dibatasi hanya pada masalah nuklir dan pencabutan sanksi, menolak isu rudal balistik dimasukkan dalam agenda.

Proposal mediator, diplomat dari Qatar, Mesir, dan Turki dilaporkan mengajukan draf kesepakatan yang mencakup penghentian pengayaan uranium oleh Iran selama tiga tahun. Fleksibilitas Teheran, ada sinyal bahwa Iran bersedia menunjukkan kelenturan terkait pemindahan cadangan uranium tingkat tinggi ke luar negeri, asalkan hak mereka untuk pengayaan tujuan damai tetap diakui.

Kontradiksi Sanksi dan Militer

Baca Juga: Iran Beri Peringatan Keras ke Donald Trump, Ancam Hancurkan Pangkalan AS di Timur Tengah

Namun, di saat diplomasi berjalan, Washington menunjukkan sikap yang kontradiktif. Hanya beberapa jam setelah dialog berakhir, Amerika Serikat justru mengumumkan sanksi baru yang menyasar ekspor minyak Iran. Langkah ini seolah menegaskan bahwa kebijakan "tekanan maksimum" tetap berjalan beriringan dengan upaya diplomasi.

Selain itu, kehadiran Komandan Pusat AS (CENTCOM) dalam rangkaian delegasi di Oman menjadi peringatan tersirat bahwa opsi militer tetap tersedia jika negosiasi menemui jalan buntu.

Harapan di Masa Depan

Pemerintah Oman, selaku mediator, menyatakan bahwa tujuan utama pertemuan ini adalah membangun fondasi kuat bagi dimulainya kembali negosiasi teknis yang lebih mendalam.

Meskipun belum ada kesepakatan final yang ditandatangani, kesediaan kedua negara untuk tetap berada di meja perundingan menjadi angin segar di tengah bayang-bayang perang besar yang sempat dikhawatirkan pecah di awal tahun 2026 ini.(*)

Editor : Hernawati
#timur tengah #negosiasi #positif #as #iran