KALTIMPOST.ID,BANDUNG-Kerusakan hutan atau deforestasi di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan, kini tidak hanya dipandang sebagai pemicu krisis ekologi semata. Lebih dari itu, hilangnya tutupan hutan secara permanen menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, terutama terkait ledakan populasi nyamuk pembawa penyakit.
Ahli Entomologi dari IPB University, Prof Upik Kesumawati Hadi, mengungkapkan fakta mengkhawatirkan. Menurutnya, aktivitas manusia yang mengubah fungsi hutan menjadi lahan non-hutan secara permanen (irreversibel) terbukti meningkatkan risiko penularan penyakit berbahaya di kawasan pemukiman baru.
“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Prof Upik dalam keterangannya dikutip dari laman resmi IPB, Minggu (15/2/2026).
Baca Juga: Ribuan Warga Padati Jalan Sehat Balikpapan Utara: Bukti Kebersamaan Warga
Dampak yang paling terasa adalah perubahan perilaku nyamuk. Prof Upik menjelaskan bahwa saat habitat alami dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya. Akibatnya, serangga ini beralih mencari sumber darah baru, yakni manusia.
“Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan atau yang berbatasan langsung dengan pembukaan lahan menjadi target paling mudah bagi nyamuk sebagai sumber nutrisi utama,” jelasnya.
Fenomena ini diperparah dengan hilangnya keanekaragaman hayati yang selama ini berfungsi sebagai penyangga alami penularan penyakit. Tanpa adanya predator alami dan inang satwa, nyamuk-nyamuk oportunis akan berkembang biak lebih masif di lingkungan manusia.
Baca Juga: Warga PPU Diimbau Siaga, Sepekan ke Depan Didominasi Hujan Ringan
Ancaman Penyakit Menular
Sejumlah penyakit mematikan siap mengintai warga di wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi. Beberapa di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), zika dan chikungunya, malaria zoonotic, demam kuning.
Selain risiko penyakit, deforestasi juga memicu gangguan siklus air yang berujung pada bencana banjir, tanah longsor, hingga kekeringan ekstrem. Hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap karbon juga mempercepat pemanasan global.
Sebagai upaya pencegahan, Prof Upik menekankan pentingnya langkah-langkah strategis yang melibatkan semua pihak. Di antaranya reboisasi massif dengan melakukan penghijauan kembali di area bekas hutan.
Baca Juga: Kasus Asusila di Taksi Online Cipulir, Polisi Kantongi Identitas Penumpang
Pengawasan teknologi dengan memanfaatkan satelit dan patroli aparat untuk memantau titik-titik penggundulan hutan. Penegakan hukum dengan memberikan sanksi tegas bagi pelaku perusakan hutan ilegal. Edukasi Masyarakat dengan membangun kesadaran warga untuk mengelola sumber daya hutan secara bijak.
“Kondisi ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Kerusakan hutan bukan sekadar angka kehilangan pohon, tapi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup dan kesehatan manusia,” tegasnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko