Kebijakan ini diterapkan dengan mekanisme khusus. Sebelum kick-off, kapten tim bersama perangkat pertandingan terlebih dahulu memastikan apakah terdapat pemain yang sedang berpuasa. Jika ada, wasit akan menghentikan pertandingan sejenak saat waktu berbuka tiba.
Penghentian laga tidak dilakukan secara sembarangan. Jeda hanya diberikan ketika permainan berada dalam kondisi bola mati, seperti saat tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau tendangan bebas, sehingga tidak mengganggu ritme pertandingan.
Waktu berbuka di Inggris umumnya berlangsung antara pukul 17.00 hingga 19.00 waktu setempat. Karena itu, pertandingan yang dimulai pada sore hari—terutama sekitar pukul 16.30 atau 17.30—menjadi laga yang paling berpotensi menghadirkan jeda Ramadan tersebut.
Durasi istirahat dipastikan berlangsung singkat, hanya cukup bagi pemain untuk minum atau mengonsumsi makanan ringan penambah energi sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Kebijakan ini sebenarnya bukan hal baru. Penerapan jeda berbuka pertama kali dilakukan beberapa tahun lalu dalam pertandingan Leicester City melawan Crystal Palace. Saat itu, laga sempat dihentikan sebentar agar pemain yang berpuasa dapat membatalkan puasa mereka di pinggir lapangan.
Sejumlah pemain Muslim yang merumput di Liga Inggris diketahui rutin menjalankan ibadah puasa Ramadan, di antaranya Mohamed Salah, Rayan Ait-Nouri, William Saliba, hingga Amad Diallo.
Kehadiran aturan ini dinilai menjadi bentuk inklusivitas sepak bola modern yang menghormati latar belakang dan keyakinan para pemainnya.
Editor : Uways Alqadrie