BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Ekonom Soroti Tantangan Nyata di Sektor Riil
Thomas Dwi Priyandoko• Sabtu, 21 Februari 2026 | 07:06 WIB
Logo Bank Indonesia, berulang tahun tahun ini.
KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Februari 2026 dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kebijakan ini mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter, terutama setelah nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga kisaran Rp16.880 per dolar AS.
Menurutnya, dinamika suku bunga global—khususnya dari Amerika Serikat—serta meningkatnya tensi geopolitik membuat bank sentral lebih fokus menjaga stabilitas makroekonomi dan cadangan devisa.
Meski demikian, di balik stabilitas tersebut, tantangan dalam negeri masih membayangi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang mencapai 5,11 persen dinilai cukup solid, namun belum sepenuhnya diikuti pergerakan optimal di sektor riil.
Salah satu indikatornya adalah masih tingginya angka pinjaman yang belum terserap (undisbursed loan) oleh dunia usaha. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga dalam beberapa tahun terakhir belum efektif mendorong investasi.
“Masalahnya bukan sekadar level suku bunga, tetapi bagaimana kebijakan itu benar-benar tersalurkan ke sektor riil,” ujar Noviardi.
Ia menekankan bahwa hambatan utama saat ini terletak pada transmisi kebijakan yang belum optimal. Likuiditas yang longgar belum sepenuhnya mampu menggerakkan aktivitas investasi dan produksi.
Selain itu, Noviardi juga mengingatkan pentingnya diversifikasi ekspor agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada stimulus pemerintah dan sektor hilirisasi, terutama di tengah potensi perlambatan ekonomi global.
Tahun 2026 pun dinilai menjadi momen krusial untuk menguji sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. Tanpa percepatan reformasi struktural di sektor keuangan, industri, dan iklim investasi, pertumbuhan ekonomi berisiko tertahan di level moderat.
Ia pun menyarankan agar Bank Indonesia tetap membuka peluang pelonggaran suku bunga secara terbatas jika inflasi terus terkendali, disertai peningkatan transparansi kebijakan.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar stabilitas ekonomi yang ada saat ini bisa benar-benar mendorong produktivitas.
“Menahan suku bunga saat ini sudah tepat. Tapi tantangan berikutnya adalah bagaimana stabilitas ini bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan nyata,” pungkasnya.