KALTIMPOST.ID-Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) meluncurkan buku di Migas Center, STT Migas Balikpapan, Jumat (27/2).
Buku berjudul Rekam Jejak Energi Migas Kalimantan dan Sulawesi: Rangkaian Legacy SKK Migas-KKKS Kalimantan dan Sulawesi itu menceritakan sepak terjang kinerja dari KKKS. Baik berkontribusi terhadap negara dari produksi migas hingga membantu pembangunan daerah.
Agenda itu menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), akademisi, hingga pelaku industri untuk membahas peran sektor migas di tengah dorongan global menuju energi bersih.
Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul Azhari Idris mengatakan, buku tersebut disusun sebagai dokumentasi perjalanan industri hulu migas yang selama ini menjadi salah satu penopang utama produksi energi nasional.
Publikasi itu memuat catatan capaian operasional lapangan, pembenahan tata kelola industri, hingga dinamika hubungan antara perusahaan energi dan masyarakat di wilayah kerja.
“Buku ini menjadi rekam jejak sekaligus refleksi perjalanan industri migas di Kalsul, termasuk kontribusi KKKS dalam menjaga keberlanjutan produksi energi nasional,” ujar Azhari.
Peluncuran buku turut menghadirkan sejumlah tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai narasumber.
Seperti mantan Wali Kota Balikpapan 2011–2021 Rizal Effendi dan Senior Manager Production Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Robert Roy Antoni mewakili General Manager PHM Setyo Sapto Edi.
Hadir pula sebagai tamu undangan perwakilan KKKS dari Kalimantan dan Sulawesi, serta Ketua STT Migas Balikpapan Lukman.
Diskusi dipandu Direktur Balikpapan TV Wiji Winarko sebagai moderator. Forum tersebut menyoroti posisi sektor migas yang masih dinilai vital dalam menjaga ketahanan energi nasional selama masa transisi menuju energi terbarukan.
Azhari menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir perdebatan mengenai masa depan migas semakin menguat.
Di satu sisi, ekspansi energi hijau diprediksi akan menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Namun di sisi lain, minyak dan gas tetap dibutuhkan sebagai energi penyangga selama proses transisi berlangsung.
“Peran migas masih strategis. Energi baru dan terbarukan memang terus didorong, tetapi migas tetap menjadi tulang punggung dalam menjaga stabilitas pasokan energi,” tegasnya.
Selain aspek energi, perubahan pendekatan sosial dalam operasional industri juga menjadi perhatian.
Azhari menyebutkan, aktivitas hulu migas kini lebih menekankan komunikasi dan negosiasi dengan masyarakat guna menjaga keberlanjutan kegiatan eksplorasi maupun produksi.
Isu relokasi warga akibat pengembangan wilayah kerja menjadi tantangan tersendiri. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan budaya masyarakat setempat.
Dari sisi teknis, keandalan infrastruktur energi tetap menjadi faktor krusial. Insiden gangguan pipa energi di Sumatra pada 2021 yang sempat menghentikan produksi hampir sebulan menjadi pelajaran penting bagi industri migas nasional untuk memperkuat sistem pengamanan dan pemeliharaan fasilitas.
Sementara itu, Azhari menyebut, pengelolaan sumur tua masih menghadapi kendala teknologi dan standar keselamatan yang tinggi.
Meski demikian, peluang pengelolaannya terbuka bagi BUMD, BUMDes, hingga sektor swasta sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.
Dalam kerangka regulasi nasional, pengusahaan migas tetap mengacu pada Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan penguasaan negara atas sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Skema kontrak kerja sama dan pengawasan industri dinilai menjadi kunci menjaga kepastian hukum sekaligus ketahanan energi nasional.
Azhari menambahkan, keberadaan sumur tua dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal, termasuk koperasi dan UMKM.
“Minyak ini milik negara. Negara akan membayar ongkos produksi dari hasil tersebut. Sehingga bisa menjadi peluang ekonomi bagi daerah,” jelasnya.
Rizal Effendi menilai, peran SKK Migas Kalsul di bawah kepemimpinan Azhari cukup krusial. Ia mencontohkan pada masa pandemi Covid-19, kegiatan pengeboran tetap berjalan meski menghadapi berbagai keterbatasan.
“Di tengah pandemi, aktivitas industri tetap berlangsung. Itu menunjukkan peran strategis SKK Migas Kalsul dalam menjaga keberlanjutan sektor energi,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama para narasumber, tamu undangan, dan pemangku kepentingan yang hadir dalam forum tersebut. (rd)
Editor : Romdani.