KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Situasi di Timur Tengah berada di titik nadir. Eskalasi konflik mencapai puncaknya setelah militer Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengonfirmasi peluncuran serangan besar-besaran gelombang keenam yang menyasar wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).
Langkah agresif Teheran ini merupakan respons langsung atas agresi udara aliansi AS-Israel yang terjadi pada Sabtu pagi, yang menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sosok paling berpengaruh di Republik Islam tersebut dikonfirmasi syahid setelah serangan rudal menghantam tepat di lokasi kerjanya di Teheran.
Baca Juga: Rusia Kecam Agresi AS-Israel di Iran, Pelanggaran Serius terhadap Hukum Internasional
Target Strategis: 27 Titik Digempur
Dalam pernyataan resminya, IRGC mengeklaim telah meluncurkan gelombang rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar 27 lokasi krusial.
Beberapa target utama yang menjadi sasaran empuk antara lain Pangkalan Udara Tel Nof instalasi udara vital di jantung Israel tengah.
Kemudian, Pusat Komando Militer yaitu markas besar Angkatan Darat Israel serta kompleks industri pertahanan di Tel Aviv.
Instalasi AS berbagai titik logistik dan tempur milik Amerika Serikat yang tersebar di kawasan regional Timur Tengah.
Pihak Garda Revolusi menegaskan bahwa aksi ini barulah permulaan dari "tahapan balas dendam yang keras".
Mereka bersumpah tidak akan membiarkan sirene peringatan di wilayah musuh berhenti berbunyi selama keadilan belum tegak.
Baca Juga: Kekosongan Kekuasaan di Iran, Dewan Trilateral Ambil Alih Tugas Pemimpin Tertinggi
Duka Nasional dan Sumpah Balasan
Kematian Ali Khamenei tidak hanya memicu kemarahan militer, tetapi juga duka mendalam bagi rakyat Iran.
Pemerintah setempat langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta meliburkan seluruh aktivitas perkantoran selama satu pekan penuh.
Bukan hanya IRGC, Angkatan Darat Iran dalam pernyataan tertulisnya juga menegaskan komitmen serupa.
Mereka bersumpah akan menuntut balas atas kematian sang pemimpin melalui operasi militer yang lebih luas dan terstruktur.
Ancaman Perang Terbuka
Agresi AS-Israel ke Teheran yang memicu serangan balasan ini telah menimbulkan kekhawatiran global akan pecahnya perang terbuka.
Serangan pagi hari di Teheran dilaporkan tidak hanya merusak infrastruktur pemerintahan, tetapi juga menelan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Baca Juga: PBB Kecam Agresi AS-Israel, Diplomasi Nuklir Berada di Ambang Kehancuran
Kini, mata dunia tertuju pada Timur Tengah. Dampak dari konflik ini diprediksi tidak hanya mengguncang stabilitas politik kawasan, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia, mengingat posisi strategis Iran dalam peta perdagangan minyak global.(*)
Editor : Dwi Puspitarini