KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Pertanyaan mengenai peluang kemenangan Iran dalam konflik terbuka melawan blok Amerika Serikat dan Israel menjadi isu sentral di tengah eskalasi Timur Tengah.
Kaltim Post mengumpulkan beberapa poin kunci analisis kekuatan Teheran dari berbagai sumber.
Keunggulan Rudal dan Drone
Iran memiliki salah satu gudang rudal balistik dan jelajah terbesar di kawasan tersebut.
Strategi pertahanan mereka sangat bergantung pada serangan asimetris menggunakan drone tempur yang murah namun efektif dalam jumlah banyak (taktik kawanan/swarm), yang terbukti mampu menembus sistem pertahanan udara canggih.
Geografi sebagai Benteng Alam
Baca Juga: Rusia Kecam Agresi AS-Israel di Iran, Pelanggaran Serius terhadap Hukum Internasional
Topografi Iran yang didominasi pegunungan memberikan perlindungan alami yang sulit ditembus lewat jalur darat.
Selain itu, posisi strategis Iran di sepanjang Selat Hormuz menjadi "kartu as" ekonomi.
Jika Iran memblokade jalur ini, pasokan energi dunia akan lumpuh, yang dapat memaksa komunitas internasional untuk menekan sekutu agar menghentikan agresi.
Strategi "Proxy" (Poros Perlawanan)
Iran tidak bertempur sendirian. Melalui jaringan "Poros Perlawanan" seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Irak, Teheran mampu menciptakan banyak front pertempuran sekaligus. Hal ini memaksa AS dan Israel memecah konsentrasi dan sumber daya mereka.
Kesenjangan Teknologi Udara
Baca Juga: PBB Kecam Agresi AS-Israel, Diplomasi Nuklir Berada di Ambang Kehancuran
Kelemahan utama Iran terletak pada armada tempur udaranya yang mulai usang dibandingkan pesawat siluman F-35 milik Israel dan AS.
Tanpa keunggulan di udara, infrastruktur vital Iran sangat rentan terhadap serangan presisi yang dilakukan oleh lawan.
Kesimpulan Menang atau Bertahan?
Secara konvensional, sangat sulit bagi Iran untuk "menang" dalam arti menduduki wilayah lawan.
Namun, Iran memiliki kapasitas besar untuk mencegah kekalahan dengan cara membuat biaya perang menjadi terlalu mahal bagi AS dan Israel, baik secara finansial, militer, maupun stabilitas global.(*)
Editor : Dwi Puspitarini