Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lalu Lintas Selat Hormuz Lumpuh, Pengiriman Minyak Dunia Anjlok 86 Persen

Ari Arief • Selasa, 3 Maret 2026 | 16:25 WIB

Pemandangan di Selat Hormuz saat ini.
Pemandangan di Selat Hormuz saat ini.

KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Ketegangan militer antara Amerika Serikat-Israel dan Iran berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.

Jalur urat nadi energi dunia, Selat Hormuz, melaporkan penurunan drastis aktivitas pelayaran kapal tanker hingga mencapai 86 persen per 1 Maret 2026.

Hal ini terjadi seiring meningkatnya risiko keamanan yang membuat perusahaan pelayaran internasional memilih menghentikan operasional mereka.

Berdasarkan data terbaru dari Kpler, tren pengiriman minyak sempat melonjak pada akhir Februari sebelum akhirnya terjun bebas.

Pada 27 Februari, tercatat 21 juta barel minyak masih melintasi selat, dan sedikit meningkat pada hari Sabtu (28/2).

Namun, memasuki awal Maret, volume tersebut merosot tajam. Hanya tiga unit kapal tanker yang terpantau melintas dengan muatan sekitar 2,8 juta barel.

Baca Juga: Jalur Udara Timur Tengah Rawan, Kemenhaj Kaltim Minta Jamaah Umrah Tunda Keberangkatan Demi Keselamatan

Angka ini sangat kontras dengan rata-rata harian sepanjang tahun 2026 yang biasanya mencapai 19,8 juta barel.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi 20 persen konsumsi minyak harian dunia, atau setara dengan 20 juta barel yang menghubungkan produsen di Timur Tengah menuju pasar global.

Ratusan Tanker Tertahan, Biaya Logistik Melambung

Laporan terkini menunjukkan sedikitnya 706 kapal tanker non-Iran kini terdampar dan mengantre di kedua sisi selat, mencakup wilayah Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Arab.

Penumpukan ini terdiri dari 334 kapal pembawa minyak mentah, 109 tanker produk minyak kotor, 263 kapal produk minyak bersih.

Meski proses pemuatan minyak di pelabuhan-pelabuhan Teluk tetap berjalan, ketidakpastian keberangkatan menuju arah timur menyebabkan antrean panjang.

Kondisi ini diprediksi bakal mengganggu rantai pasok energi dunia, memicu lonjakan biaya asuransi kapal, serta melambungkan harga angkut komoditas secara global.

Baca Juga: Ujian Persahabatan RI-Iran, Di Tengah Duka Teheran, Posisi Indonesia di BoP Digoyang

Status Keamanan Level Kritis

Situasi kian mencekam setelah muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran mengeluarkan peringatan keras melalui frekuensi darurat VHF Channel 16.

Pesan tersebut menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintas, meskipun secara de jure belum ada pengumuman penutupan selat secara formal.

Media lokal Iran bahkan mengklaim bahwa jalur strategis ini secara efektif sudah tertutup bagi pelayaran komersial. Dampaknya, sejumlah kapal kontainer besar terpantau putar balik di tengah laut.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) secara resmi telah menaikkan status keamanan di Selat Hormuz ke Level Kritis (risiko tertinggi).

Keputusan ini diambil setelah adanya laporan serangan nyata terhadap kapal-kapal komersial di wilayah pesisir Uni Emirat Arab dan dekat Musandam, Teluk Oman.(*)

Editor : Dwi Puspitarini
#minyak #timur tengah #selat hormuz #tanker #produsen