KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Tiga kali Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) Samarinda ditabrak tongkang bermuatan batu bara sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026.
Dari insiden itu, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kaltim melaksanakan uji Non-Destructive Test (NDT) dan uji dinamis. Pengujuan untuk yang kedua kalinya berlangsung pada Rabu (4/2/2026). Tujuannya untuk mendeteksi perubahan perilaku struktur tanpa merusaknya.
Kepala DPUPR-Pera Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda memastikan hasil pengujian jembatan tersebut sudah diterima. Pemerintah menggandeng tim ahli pengujian struktur jembatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Hasilnya masih baik dan layak untuk dilewati. Dari hasil uji insyaallah tidak ada masalah, dan pengujian itu tidak mengeluarkan perubahan yang signifikan," ucapnya, Selasa (3/2/2026).
Artinya, lanjut dia, kendaraan bertonase besar seperti kendaraan roda delapan dipastikan aman melintasi jembatan tersebut. Sementara untuk perbaikannya, Aji menyebut pihak-pihak yang terlibat dalam insiden penabrakan jembatan yang langsung bertanggungjawab.
Aji menegaskan dari tiga kali insiden, dua di antaranya sedang dalam proses perbaikan. "Ada jaminan sudah diserahkan ke kami, yang kejadian pertama mungkin penabrak dalam tahap penunjukan kontraktor, begitu juga yang kedua dan ketiga sedang berporses," urainya. Ditegaskan Aji, seluruh biaya dan proses pengerjaan dilakukan pihak penabrak. Pemerintah hanya menunggu pengerjaan perbaikan selesai. "Iya, kita (pemerintah) hanya terima beres aja," pungkasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki