Media internasional melaporkan, rudal jelajah Tomahawk dan rudal pencegat SM-3 menjadi dua sistem yang paling banyak digunakan dalam fase awal serangan. Selain itu, sistem pertahanan seperti THAAD dan Patriot juga disebut bekerja ekstra keras menghadapi potensi serangan balasan.
Operasi militer yang dipimpin Washington ini berlangsung saat Pentagon sebelumnya sudah menguras sebagian stok pertahanan udaranya untuk membantu Ukraina dalam perang panjang melawan Rusia.
Kondisi itu membuat kemampuan suplai ulang menjadi sorotan, terutama bila perang dengan Iran berlangsung lebih dari sepekan.
Sejumlah analis memperingatkan, sistem intersepsi berteknologi tinggi memang dirancang untuk menghadapi serangan terbatas, bukan rentetan rudal murah dalam jumlah besar dan berkepanjangan.
Biaya setiap pencegatan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan dolar AS, jauh lebih mahal dibanding rudal yang ditembakkan lawan.
Peneliti dari Stimson Center, Christopher Preble, menilai laju intersepsi saat ini sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Produksi ulang rudal canggih seperti Patriot atau SM-6 membutuhkan waktu berbulan-bulan karena proses perakitan dan pengujian yang kompleks.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran tersebut. Ia mengklaim persediaan amunisi Amerika berada dalam kondisi sangat memadai dan bahkan menyebut pasokan “nyaris tak terbatas”.
Meski demikian, ia mengakui durasi operasi militer bisa melampaui proyeksi awal empat hingga lima pekan.
Konflik ini sendiri menjadi bagian dari eskalasi besar di kawasan Timur Tengah, terutama setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan sebelumnya. Situasi tersebut memicu ketegangan regional yang berpotensi meluas apabila
Editor : Uways Alqadrie