Makin Sulit Hentikan Perang, Parlemen AS Ternyata Tolak Resolusi Operasi Militer Trump ke Iran
Thomas Dwi Priyandoko• Jumat, 6 Maret 2026 | 08:31 WIB
Donald Trump.
KALTIMPOST.ID-Dewan Perwakilan Rakyat atau Parlemen Amerika Serikat menolak resolusi yang bertujuan menghentikan operasi militer Presiden Donald Trump terhadap Iran. Voting yang berlangsung di Gedung Capitol menghasilkan suara tipis 219 berbanding 212.
Resolusi tersebut berupaya mewajibkan presiden meminta persetujuan Kongres sebelum melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Namun mayoritas anggota dari Partai Republik menolak langkah itu sehingga kebijakan militer Trump tetap dapat berjalan.
Pemungutan suara ini menjadi yang kedua dalam dua hari terakhir setelah upaya serupa juga gagal disahkan di Senat Amerika Serikat. Saat ini Partai Republik memegang mayoritas tipis di DPR sehingga mampu menggagalkan resolusi tersebut.
Menurut Konstitusi AS, hanya Kongres yang memiliki kewenangan untuk menyatakan perang. Meski demikian, presiden dapat mengambil tindakan militer terbatas tanpa persetujuan legislatif, terutama dalam situasi yang dianggap sebagai pembelaan diri.
Anggota parlemen dari Partai Demokrat Gregory Meeks menilai presiden tidak boleh bertindak sepihak dalam konflik berskala besar.
“Donald Trump bukan raja. Jika ia yakin perang dengan Iran adalah kepentingan nasional, maka ia harus datang ke Kongres dan menjelaskan alasannya,” kata Meeks.
Sementara itu Ketua Komite Hubungan Luar Negeri dari Partai Republik Brian Mast justru membela langkah Trump. Ia mengatakan presiden memiliki kewenangan konstitusional untuk melindungi Amerika Serikat dari ancaman yang dianggap mendesak.
Selain menolak resolusi pembatasan perang, DPR juga mengesahkan langkah lain yang menegaskan Iran sebagai negara sponsor utama terorisme.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke Iran pada akhir pekan lalu. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump telah melakukan berbagai pertemuan tertutup dengan anggota Kongres untuk meyakinkan mereka bahwa situasi masih terkendali.
Konflik tersebut juga mulai memakan korban. Enam anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas akibat serangan drone di Kuwait. Pemerintah AS juga memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan jika konflik terus berlanjut.
Di sisi lain, ribuan warga Amerika di luar negeri dilaporkan berupaya mencari penerbangan pulang dari kawasan Timur Tengah karena khawatir konflik semakin meluas.