Araghchi menegaskan Iran tidak gentar jika Washington benar-benar mengerahkan pasukan darat. Ia mengatakan negaranya telah mempersiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
“Kami menunggu mereka. Kami yakin mampu menghadapi mereka, dan itu justru akan menjadi bencana bagi mereka,” kata Araghchi dalam wawancara dengan media internasional.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat dalam operasi militer terhadap Iran.
Situasi memanas setelah serangan militer gabungan AS dan Israel yang terjadi pada akhir Februari lalu. Serangan udara tersebut dilaporkan menimbulkan korban besar di Iran, termasuk warga sipil.
Dalam laporan yang beredar, lebih dari seribu orang dilaporkan tewas akibat bombardir yang juga menghantam sejumlah fasilitas sipil, termasuk sekolah.
Serangan itu juga menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat penting negara tersebut.
Rentetan serangan tersebut kemudian memicu gelombang balasan dari Iran ke berbagai target di kawasan Timur Tengah. Beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk dilaporkan menjadi sasaran, selain fasilitas sipil yang turut terdampak.
Di sisi lain, pemerintahan Trump memberi sinyal operasi militer terhadap Iran kemungkinan berlangsung lebih lama dari rencana awal. Bahkan, operasi tersebut diperkirakan bisa berlangsung hingga beberapa pekan ke depan.
Meski demikian, kebijakan tersebut disebut memicu perdebatan di dalam negeri AS, karena tidak semua kalangan mendukung perluasan konflik di kawasan Timur Tengah.
Editor : Uways Alqadrie