KALTIMPOST.ID, WASHINGTON-Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang kian kompleks. Laporan terbaru dari The Washington Post mengungkapkan indikasi kuat keterlibatan Rusia secara tidak langsung.
Tiga pejabat Amerika Serikat (AS) membeberkan bahwa Kremlin diduga memberikan informasi intelijen krusial kepada Iran untuk menargetkan pasukan dan aset militer Paman Sam di kawasan tersebut.
Dukungan ini menandai keterlibatan salah satu kekuatan nuklir terbesar dunia dalam pusaran konflik yang tengah membara. Informasi intelijen yang dibagikan mencakup koordinat presisi aset militer AS, mulai dari posisi kapal perang hingga pergerakan pesawat tempur sejak ketegangan memuncak Sabtu lalu.
Serangan Presisi Iran Jadi Sorotan
Baca Juga: Gila Obok-obok Negara Orang! Trump Sebut Kuba Target Berikutnya Setelah Iran
Para analis militer mencatat adanya peningkatan "kecanggihan" dalam pola serangan balik Iran. Pakar militer Rusia dari Carnegie Endowment for International Peace, Dara Massicot, menyebut Iran berhasil melakukan serangan yang sangat terukur pada infrastruktur komando, kendali, serta radar peringatan dini.
"Iran hanya memiliki sedikit satelit militer. Citra satelit dan data ruang angkasa dari Rusia yang jauh lebih maju menjadi aset yang sangat berharga bagi mereka," jelas Massicot. Hal senada diungkapkan Nicole Grajewski dari Harvard Kennedy School, yang menyoroti kemampuan Iran dalam menembus sistem pertahanan udara AS yang biasanya sangat rapat.
Beberapa dampak serangan yang teridentifikasi meliputi kehancuran infrastruktur. Serangan terhadap fasilitas komando dan radar di beberapa titik, termasuk di Kuwait yang menewaskan enam personel militer. Lumpuhnya diplomasi Stasiun CIA di Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dilaporkan hancur total dan terpaksa ditutup karena kerusakan yang "tidak dapat dipulihkan."
Baca Juga: Update Perang Timur Tengah 2026: Iran Balas Serangan, AS-Israel Klaim Kuasai Langit Iran
Ajang Balas Budi dan Pengalihan Isu
Langkah Moskow ini diduga kuat merupakan aksi "balas budi" atas dukungan Iran terhadap Rusia selama perang di Ukraina. Seperti diketahui, Teheran telah memasok ribuan drone serang untuk menyokong invasi Rusia.
"Rusia sangat menyadari bantuan intelijen dan militer yang kami berikan ke Ukraina. Mereka nampaknya sangat senang bisa membalas perlakuan itu di Timur Tengah," ujar salah satu pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya.
Selain faktor balas budi, Kremlin melihat keuntungan strategis dari konflik berkepanjangan antara AS dan Iran harga minyak berpotensi kenaikan pendapatan dari sektor energi. Distraksi global mengalihkan fokus perhatian Amerika dan Eropa dari medan perang di Ukraina ke Timur Tengah.
Baca Juga: Situasi Iran Memanas, 32 WNI Mulai Dievakuasi via Azerbaijan
Hingga saat ini, pihak-pihak terkait masih irit bicara. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar mengenai temuan intelijen tersebut. Senada, CIA dan Pentagon juga memilih untuk tutup mulut.
Di sisi lain, Beijing tampak mengambil jarak. Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Teheran, pejabat AS menyebut China sejauh ini tidak terlihat memberikan bantuan militer atau intelijen kepada Iran, melainkan tetap mendorong upaya diplomasi untuk segera menghentikan konflik.(*)
Editor : Hernawati