KALTIMPOST.ID – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memengaruhi jalur penerbangan internasional, termasuk perjalanan jamaah umrah dari Indonesia menuju Arab Saudi atau sebaliknya.
Beberapa maskapai mengalami gangguan operasional karena bandara transitnya berada di wilayah yang terdampak langsung konflik.
Dijelaskan Tour Leader Sultanah Tour & Travel Endro Effendi, maskapai seperti Emirates, Etihad, dan Qatar menjadi yang paling terdampak karena menggunakan bandara transit di Dubai dan Abu Dhabi.
Sebaliknya, perjalanan umrah menggunakan maskapai lain relatif masih berjalan normal. Pada musim Ramadan ini, Sultanah Tour & Travel menggunakan beberapa maskapai alternatif.
“Untuk Ramadan ini kami banyak menggunakan Hainan Airlines, IndiGo, dan Oman Air. Transitnya di Hainan China, Mumbai, dan Muscat,” jelasnya.
Endro menuturkan, rombongan jamaah yang berangkat pada 2 Maret dari Samarinda, Balikpapan, dan Berau menggunakan maskapai Oman Air dengan transit di Muscat. Dia menambahkan, perjalanan pulang jamaah sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Perjalanan pulang tidak ada masalah. Ini kebetulan sedang bawa jamaah pulang, reguler umroh Ramadan. Kami dari Jeddah tanggal 4, kemudian terbang ke Hainan tanpa kendala. Ini kami city tour di Hainan, baru malam balik ke Indonesia,” ungkapnya dikonfirmasi Kamis (5/3).
Meski begitu, Endro mengakui beberapa rute penerbangan harus sedikit memutar untuk menghindari wilayah udara yang dinilai tidak aman.
“Jalur penerbangan memang agak mutar, saya kan pantau dan itu terasa. Perjalanan bisa sampai hampir 11 jam karena menghindari area langit yang tidak aman, biasanya 10 jam sudah sampai,” jelasnya.
Yang terpenting, kata Endro, jamaah tidak dibebani biaya tambahan meskipun situasi penerbangan internasional sedang bergejolak. Dia memastikan itinerary perjalanan tetap berjalan sesuai rencana.
Jika pun terjadi perubahan teknis penerbangan, biasanya pihak travel yang akan menanggung penyesuaian biaya agar jamaah tidak terbebani. “Kalaupun ada penyesuaian biasanya travel yang mengambil alih, karena tidak ingin membebankan kepada jamaah,” jelasnya.
Saat ini pihaknya masih menunggu kepastian untuk keberangkatan jamaah berikutnya, terutama yang dijadwalkan berangkat pada 24 Maret menggunakan maskapai Emirates dalam paket umrah plus Turki.
“Untuk keberangkatan 24 Maret yang menggunakan Emirates masih wait and see. Tiketnya sudah dibeli, tapi belum ada konfirmasi apakah tetap berangkat atau diganti maskapai lain,” katanya.
Selain itu, terdapat pula jadwal keberangkatan jamaah pada 10 Maret yang hingga kini belum mendapat pemberitahuan pembatalan dari maskapai. “Untuk jamaah yang berangkat tanggal 10 juga belum ada informasi pembatalan dari maskapai Oman Air,” ujarnya.
Saat ini Sultanah Tour & Travel masih memberangkatkan jamaah umrah Ramadan secara bertahap. Total sekitar 180 jamaah mengikuti program umrah Ramadan tahun ini.
“Di sana jamaah fokus ibadah. Untuk yang reguler juga tetap alhamdulillah masih aman. Sejauh ini masih menunggu informasi dari maskapai untuk keberangkatan selanjutnya,” tutup Endro. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo