KALTIMPOST.ID, Perang terus berkecamuk setelah Amerika Serikat dan sekutunya Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Tak tinggal diam, Iran pun telah membalasnya dengan melancarkan serangan serangan terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Peperangan yang terus berlanjut di Kawasan Teluk membawa dampak pada Selat Hormuz yang menjadi rute penting pengiriman minyak global.
Pengiriman melalui selat itu dilaporkan terganggu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Karena hal tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal tanker minyak melalui jalur vital tersebut.
Menanggapi pernyataan Donald Trump, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Ali Mohammad Naini menyebut bahwa pihaknya “sangat menyambut” kehadiran pasukan AS di Selat Hormuz jika rencana tersebut direalisasikan.
“Iran sangat menyambut kemungkinan pasukan AS mengawal kapal tanker melintasi Selat Hormuz. Kami tunggu kehadiran mereka," kata Naini.
Namun, sebelum mengambil keputusan tersebut, Naini memperingatkan agar Washington meninjau kembali catatan Sejarah terdahulu.
Ia merujuk pada insiden terbakarnya supertanker Amerika, Bridgeton, pada 1987 serta sejumlah kapal tanker yang baru-baru ini menjadi target serangan.
“Kami merekomendasikan agar orang-orang Amerika mengingat kembali api yang melalap Bridgeton dan kapal-kapal yang menjadi target akhir-akhir ini,” tegas Naini.
Sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran dimulai pada Sabtu lalu, sedikitnya sembilan kapal telah menjadi sasaran serangan.
IRGC sebelumnya telah mengeluarkan instruksi agar kapal-kapal tidak melintasi perairan strategis tersebut demi alasan keamanan.