Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Suksesi di Teheran, Mojtaba Khamenei, Ulama Garis Keras yang Jadi Mimpi Buruk Barat

Ari Arief • Senin, 9 Maret 2026 | 13:37 WIB

Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Ayatollah Mojtaba Khamenei.

KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Dunia kini tertuju pada sosok Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei. Setelah sepekan kepergian sang ayah, Ali Khamenei, Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior resmi menunjuk pria berusia 56 tahun ini sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.

Penunjukan ini bukan sekadar suksesi keluarga, melainkan sinyal kuat bahwa kelompok konservatif garis keras tetap memegang kemudi penuh di Teheran.

Pilihan yang "Dibenci Musuh"

Keputusan Majelis Pakar ini tampaknya selaras dengan wasiat mendiang Khamenei. Anggota Majelis Pakar, Mohsen Heidari Alekasir, menyebutkan bahwa kriteria utama pemimpin baru adalah sosok yang "dibenci oleh musuh".

Baca Juga: Era Baru Pemimpin Iran Dimulai, Rudal Langsung Sasar Wilayah Israel

Sindiran ini merujuk langsung pada reaksi keras Washington. Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat menyebut nama Mojtaba sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima". Bagi Teheran, penolakan AS justru menjadi semacam legitimasi atas keteguhan sikap Mojtaba.

Kekuatan di Balik Layar

Meski jarang tampil di depan publik dan tidak pernah memegang jabatan formal di pemerintahan, Mojtaba bukanlah orang baru dalam konstelasi politik Iran. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai "penjaga gerbang" sang ayah.

Ia membangun pengaruh besar melalui kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Basij.

Jaringan inilah yang memberinya kendali atas aparatur keamanan serta imperium bisnis besar yang dikelola militer.

Di mata Barat, Mojtaba adalah penghalang utama bagi kaum reformis yang ingin menjalin hubungan dengan dunia luar atau mengekang program nuklir Iran.

Kontroversi Politik Dinasti

Baca Juga: Pelatih Irak Minta Playoff Piala Dunia 2026 Ditunda, Konflik Iran Bikin Perjalanan Tim Terganggu

Namun, langkah Mojtaba menuju puncak kekuasaan tidak tanpa rintangan. Kritik tajam datang dari dalam negeri terkait isu "politik dinasti". Banyak pihak menilai sistem republik yang menggulingkan monarki pada 1979 seharusnya tidak kembali ke pola kepemimpinan turun-temurun.

Secara teologis, posisi Mojtaba juga digoyang. Saat ini ia memegang gelar Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah yang dimiliki ayah maupun pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.

Para kritikus menganggap kualifikasi keagamaan Mojtaba belum cukup mumpuni untuk menyandang otoritas tertinggi sebagai Marja (sumber teladan).

Jejak Sang Putra Mahkota

Lahir pada 1969 di Mashhad, Mojtaba tumbuh di tengah pergolakan revolusi. Di masa muda, ia ikut memanggul senjata dalam Perang Iran-Irak, sebuah pengalaman yang mempererat hubungannya dengan elit militer Iran. Pendidikan agamanya ditempuh di Qom, jantung pembelajaran Syiah, di bawah bimbingan para ulama konservatif.

Baca Juga: Makin Panas! Donald Trump Siapkan Pengawalan Tanker di Selat Hormuz, Iran: Kami Tunggu!

Namanya semakin mencuat setelah kandidat potensial lainnya, seperti mantan Presiden Ebrahim Raisi, wafat dalam kecelakaan helikopter pada 2024. Sejak 2019, Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi kepadanya karena dianggap mewakili kepentingan pemimpin tertinggi secara sepihak tanpa mandat jabatan resmi.

Kini, dengan kendali penuh di tangan, Mojtaba menghadapi tantangan besar: mempertahankan stabilitas rezim di tengah tekanan sanksi internasional dan potensi unjuk rasa massa warga Iran yang mendambakan kebebasan lebih luas.(*)

Editor : Dwi Puspitarini
#militer #Mojtaba Kemenei #Teheran #Israel #as #Rezim