KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah pada Selasa (10/3) membawa kabar mengejutkan bagi peta kekuatan global.
Laman berita ternama Amerika Serikat, Newsweek, secara gamblang menyebut bahwa sejauh ini Iran berada di posisi pemenang dalam konfrontasi bersenjata melawan Washington dan Israel.
Klaim ini bukan tanpa dasar. Sebelas hari pasca pecahnya perang terbuka, Amerika Serikat tampak mulai kewalahan menghadapi intensitas serangan rudal dan drone Teheran yang presisi.
Menurut laporan tersebut, kemenangan Iran terlihat dari bagaimana mereka berhasil memaksa Pentagon melakukan langkah darurat yang berisiko. Demi menambal lubang pertahanan di Timur Tengah, AS terpaksa memindahkan sistem pertahanan udara anti-rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Semenanjung Korea.
"Ini menjadi sinyal kuat adanya tekanan luar biasa terhadap pasukan AS dan sekutunya. Meskipun pejabat Washington mencoba meremehkan kekhawatiran soal stok senjata, kenyataan di lapangan berkata lain," tulis laporan Newsweek yang dikutip Rabu (11/3).
Krisis Rudal Pencegat
Pangkal persoalan bermula sejak 28 Februari lalu, saat AS-Israel menyerang Teheran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Balasan Iran terbukti sangat destruktif.
Iran merespons dengan blokade total menutup Selat Hormuz yang merupakan urat nadi minyak global. Serangan presisi dengan membombardir Tel Aviv, Yerusalem, dan pangkalan militer AS. Lumpuhkan radar, militer Iran mengeklaim sedikitnya empat radar THAAD, termasuk di Yordania, berhasil dihancurkan oleh drone kamikaze.
Baca Juga: Ketegangan Selat Hormuz Memuncak, Iran Mulai Sebar Ranjau, Trump Ancam Balasan '20 Kali Lipat'
Kondisi ini membuat persediaan rudal pencegat untuk sistem Patriot dan THAAD milik AS menipis. Mengingat harga satu rudal pencegat sangat mahal dan proses produksinya memakan waktu, AS kini berada dalam posisi dilematis antara menjaga keamanan di Indo-Pasifik atau menyelamatkan asetnya di Timur Tengah.
Dilema Sekutu di Asia
Penarikan alutsista dari Korea Selatan (Korsel) demi kepentingan di Arab ini memicu kekecewaan mendalam dari Seoul. Presiden Korsel, Lee Jae Myung, mengakui pihaknya keberatan namun tidak berdaya menghalangi keputusan militer AS (USFK).
"Kekhawatiran utama kami adalah Korea Utara akan memanfaatkan celah ini untuk menjadi lebih agresif," ungkap Lee dalam laporan kantor berita Yonhap.
Situasi ini semakin mengukuhkan narasi bahwa strategi gesekan (war of attrition) yang diterapkan Iran berhasil menguras sumber daya militer Amerika Serikat di berbagai belahan dunia sekaligus.(*)
Editor : Hernawati