Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tegas! Enggan Semeja dengan AS, Iran: Selama Ramadan Kami Tak Layani 'Setan'

Ari Arief • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:50 WIB

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

KALTIMPOST.ID, TEHERAN-Harapan dunia internasional untuk melihat Amerika Serikat (AS) dan Iran duduk di meja perundingan tampaknya sirna.

Pemerintah Iran secara resmi menyatakan bahwa ruang diplomasi bagi Washington telah berakhir. Alih-alih berunding, Teheran justru menginstruksikan Garda Revolusi untuk bersiap menghadapi perang terbuka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa sejarah "pengkhianatan" AS menjadi alasan utama pihaknya menutup pintu dialog. Menurutnya, berbicara dengan Gedung Putih saat ini hanyalah tindakan sia-sia.

"Serangan terus berlangsung, dan kami siap membalas dengan hujan rudal selama diperlukan. Agenda pembicaraan dengan Amerika sudah kami hapus," tegas Araghchi dalam wawancara bersama PBS News, Rabu (11/3).

Sentimen Ramadan: 'No Dialogue with the Devil'

Baca Juga: Israel Isyaratkan Tak Ingin Perang Abadi, Menlu Saar: Berhenti di Waktu yang Tepat

Kekerasan sikap pemerintah ini selaras dengan gejolak di akar rumput. Bertepatan dengan bulan suci Ramadan, dukungan rakyat Iran mengalir deras kepada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Di berbagai platform digital, menggema seruan perlawanan religius dengan narasi: "Selama Ramadan, kami tidak sudi berbicara dengan setan."

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, turut memanaskan suasana. Ia menilai AS hanya menggunakan pola "perang-negosiasi" untuk memperkuat dominasi. "Agresor harus dipukul keras agar kapok. Kekuatan fisik adalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami," tulis Qalibaf via akun X miliknya.

Trump Menebar Ancaman '20 Kali Lipat'

Di Florida, Donald Trump menanggapi dingin gertakan Iran. Meski harga minyak dunia kini telah melesat melampaui US$100 per barel, Trump tetap optimis dan menyebut operasi militer AS sebagai "ekspedisi jangka pendek".

Baca Juga: Iran Siap Hadapi Invasi Darat AS, Abbas Araghchi: Itu Akan Jadi Bencana bagi Amerika

Namun, nada bicaranya berubah menjadi ancaman maut saat menyinggung keamanan Selat Hormuz. Trump memperingatkan Iran agar tidak coba-coba menghentikan distribusi energi dunia.

"Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam AS 20 kali lipat lebih dahsyat dari apa pun yang pernah mereka rasakan sebelumnya!" gertak Trump melalui Truth Social.

Ekonomi Global Tercekik di Selat Hormuz

Dunia kini berada dalam bayang-bayang krisis energi hebat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah bersumpah akan menyumbat Selat Hormuz, jalur nadi yang memasok 20 persen kebutuhan minyak bumi dunia, selama agresi AS-Israel berlanjut.

Baca Juga: Gedung Putih 'Warning' Rusia, Jangan Berbagi Data Intelijen dengan Iran!

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan bahwa situasi ini mulai melumpuhkan jalur pengiriman. Meski pipa alternatif telah dipacu hingga kapasitas 7 juta barel per hari, volume minyak yang tertahan tetap sangat masif.

"Jika blokade ini berlarut, dampak ekonominya akan sangat fatal, terutama pada lonjakan harga bensin dan avtur secara global," kata Nasser.

Kini, dunia hanya bisa menahan napas. Di satu sisi, Iran memilih "berpuasa" dari diplomasi, sementara di sisi lain, Trump telah menyiapkan "palu gada" yang diklaim jauh lebih mematikan.(*)

Editor : Almasrifah
#blokade #Teheran #as #iran #setan