KALTIMPOST.ID, Di tengah meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah, Iran dilaporkan telah mulai memasang ranjau di Selat Hormuz.
Namun, skala pemasangan tersebut masih terbatas. Sebuah sumber menyebutkan baru beberapa lusin ranjau yang dipasang di jalur pelayaran tersebut.
Jalur pelayaran tersebut merupakan urat nadi energi dunia, di mana hampir seperlima dari produksi minyak global melintas di sana.
Saat ini lalu lintas di jalur tersebut dilaporkan hampir terhenti total.
Atas laporan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman di media sosialnya, Social Truth.
“Jika Iran memasang ranjau di Selat Hormuz, dan kami tidak memiliki laporan tentang hal itu, kami ingin ranjau tersebut disingkirkan, SEGERA!” tulis Trump.
Trump juga mengatakan, Iran akan menghadapi konsekuensi besar apabila ranjau tersebut tidak segera disingkirkan.
Ia memperingatkan bahwa konsekuensi tersebut bisa terjadi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Akan tetapi, Trump juga membuka peluang deeskalasi. Ia mengatakan, jika Teheran mencabut ranjau tersebut, tindakan itu akan menjadi langkah besar ke arah yang benar.
Sementara itu, menyusul adanyan pernyataan Trump, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan langkah militer dilakukan Washington.
Lewat unggahan di X, Hegseth mengatakan Komando Pusat AS (Centcom) telah menargetkan kapal-kapal Iran di wilayah tersebut.
“Atas arahan Presiden Trump, Komando Pusat AS telah melenyapkan kapal-kapal penebar ranjau yang tidak aktif di Selat Hormuz—menghancurkannya dengan presisi yang kejam,” tulis Hegseth.
Centcom kemudian mengonfirmasi operasi tersebut dalam unggahan media sosial pada Selasa malam.
Militer AS menyatakan, telah menghancurkan sejumlah kapal Angkatan Laut Iran di dekat Selat Hormuz, termasuk 16 kapal penebar ranjau.
Editor : Hernawati