KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebijakan pemerintah membatasi akses media sosial bagi anak dan remaja di bawah usia 16 tahun mendapat sambutan positif dari sejumlah orang tua. Bagi sebagian keluarga, pengawasan penggunaan gawai bagi anak bahkan sudah diterapkan jauh sebelum aturan tersebut muncul.
Ratih Dewi Ratna Sari, ibu tiga anak di Samarinda, mengaku menyambut baik kebijakan tersebut. Perempuan yang akrab disapa Rara ini mengatakan pembatasan penggunaan gawai sudah ia lakukan sejak lama kepada ketiga anaknya yang berusia remaja dan anak-anak. “Ya senang banget kalau ada aturan seperti itu,” kata Rara saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Rara mengaku sebelum ada pembatasan itu dia dan suaminya telah lebih dulu mengawasi aktivitas digital anak-anaknya menggunakan aplikasi Google Family Link. Aplikasi ini merupakan layanan pengawasan orang tua dari Google yang memungkinkan orang tua mengontrol penggunaan ponsel anak melalui perangkat mereka sendiri.
Melalui Family Link, orang tua dapat melihat aplikasi apa saja yang digunakan anak, mengatur batas waktu penggunaan ponsel, serta menonaktifkan aplikasi tertentu seperti media sosial atau gim jika dianggap tidak perlu. Orang tua juga dapat mengunci ponsel anak secara otomatis pada waktu tertentu.
“Kalau misalnya kami tidak ingin mereka membuka TikTok atau aplikasi tertentu, ya tinggal dimatikan saja dari aplikasi itu,” ujarnya. Ia mulai menggunakan aplikasi tersebut sejak anak sulungnya memiliki ponsel sendiri sekitar 2024. Dengan fitur pengaturan waktu yang tersedia di Family Link, ponsel anak-anaknya akan otomatis tidak dapat digunakan pada jam tertentu.
“Kalau malam biasanya jam sembilan itu langsung mati sendiri,” kata Rara. Dalam keseharian, Rara juga mengatur jadwal penggunaan gawai bagi anak-anaknya. Pada akhir pekan, mereka diperbolehkan bermain ponsel selama dua jam pada pagi hari dan dua jam pada sore hari.
Sementara pada hari sekolah, penggunaan gawai biasanya dibatasi sekitar satu hingga dua jam pada sore hari setelah kegiatan belajar selesai. Bagi Rara, penggunaan ponsel bahkan dijadikan sebagai bentuk penghargaan bagi anak setelah mereka menyelesaikan kewajiban belajar. “Jadi main HP itu seperti reward setelah mereka belajar,” ujarnya.
Menurut Rara, teknologi memang tidak bisa sepenuhnya dijauhkan dari kehidupan anak saat ini. Ia mengatakan beberapa pelajaran di sekolah juga sudah memanfaatkan gawai sebagai bagian dari proses belajar. Karena itu, ia memilih untuk mengawasi dan membatasi penggunaan teknologi, bukan melarang sepenuhnya.
Rara yang bekerja sebagai baker setiap hari mengaku aplikasi Family Link sangat membantu dirinya dan suaminya dalam mengawasi penggunaan gawai anak. Suaminya yang berprofesi sebagai jurnalis juga memiliki kesibukan yang padat. “Aplikasi ini sangat membantu kami sebagai orang tua untuk tetap bisa memantau penggunaan HP anak-anak,” katanya.
Sejauh ini, anak-anaknya belum mengetahui secara detail kebijakan pembatasan usia media sosial dari pemerintah. Namun mereka juga tidak menunjukkan keberatan karena sejak awal sudah terbiasa dengan aturan penggunaan gawai yang ketat di rumah.
Meski mendukung kebijakan pemerintah, Rara menilai pengawasan dari orang tua tetap menjadi faktor utama dalam mengontrol aktivitas digital anak. Sebab anak masih bisa mengakses gawai dengan meminjam ponsel milik orang tua.
“Kalau anak pinjam HP orang tua kan tetap bisa saja. Jadi sebenarnya kembali lagi ke orang tuanya mau mengizinkan atau tidak,” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo