KALTIMPOST.ID-Ketersediaan tiket penerbangan menjelang mudik Lebaran 2026 kembali menjadi sorotan pelaku industri pariwisata di Kaltim.
Selain harga yang dinilai tinggi, keterbatasan kursi penerbangan juga membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan tiket.
Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Kaltim, Syarifuddin Tangalindo, mengatakan keluhan tersebut banyak disampaikan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan setelah maskapai menambah penerbangan ekstra, tiket tetap cepat habis.
“Extra flight memang ada, tetapi tiketnya juga langsung ludes. Kita coba cek di aplikasi pemesanan tiket, harganya bahkan ada yang sangat tinggi,” ujarnya.
Ia mencontohkan pencarian tiket penerbangan Balikpapan–Surabaya yang dalam beberapa platform penjualan tiket sempat muncul dengan harga sangat tinggi.
Menurutnya kondisi ini menunjukkan tingginya permintaan perjalanan udara pada masa mudik Lebaran yang tidak diimbangi dengan ketersediaan kursi penerbangan.
Syarifuddin menyebut beberapa masyarakat bahkan harus mencari alternatif perjalanan yang tidak biasa untuk bisa pulang kampung.
“Ada teman yang mau ke Medan, tetapi tidak dapat tiket penerbangan domestik. Akhirnya dia memilih transit melalui Malaysia,” katanya.
Dalam kasus tersebut, penumpang harus terlebih dahulu terbang ke Malaysia, menginap satu malam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir karena tidak tersedia penerbangan lanjutan pada hari yang sama.
Menariknya, menurut Syarifuddin, biaya perjalanan dengan rute memutar tersebut justru bisa lebih murah dibandingkan penerbangan langsung dari dalam negeri.
“Kalau langsung ke Medan bisa sampai sekitar Rp 8 juta. Tapi lewat Malaysia justru sekitar Rp 4 juta sudah termasuk menginap semalam,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih lemahnya pengelolaan transportasi udara, khususnya pada periode puncak perjalanan seperti Lebaran.
Menurutnya, tingginya harga tiket dan keterbatasan kursi penerbangan berpotensi memberatkan masyarakat, terutama pekerja yang ingin pulang kampung.
“Ada orang yang bekerja setahun penuh, tetapi penghasilannya habis hanya untuk membeli tiket pulang kampung saat Lebaran,” katanya.
Padahal pemerintah sebelumnya telah mengumumkan sejumlah kebijakan untuk menekan harga tiket, seperti pemberian diskon tarif penerbangan dan pengurangan sejumlah komponen biaya.
Namun menurut Syarifuddin, kebijakan tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di lapangan.
“Seharusnya pemerintah bisa mengontrol operator penerbangan agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Ditanya soal potensi praktik pemesanan kursi dalam jumlah besar atau block seat yang berpotensi mengurangi ketersediaan tiket bagi penumpang umum, dirinya menyebut potensi tersebut ada, namun harus dibuktikan.
Di mana disebutnya, dalam praktik tersebut, sejumlah kursi dapat dipesan lebih awal tanpa langsung mencantumkan nama penumpang. Jika tidak diawasi dengan baik, kursi tersebut bisa menahan pasokan tiket di pasar.
“Kalau kursi diblok tetapi nama penumpangnya belum dimasukkan, seharusnya maskapai bisa membatalkan dan membuka kembali kursi itu untuk publik,” katanya.
Selain faktor distribusi tiket, keterbatasan armada pesawat juga dinilai memengaruhi tingginya harga tiket dan terbatasnya kursi penerbangan.
Menurut Syarifuddin, keterbatasan tersebut terlihat dari cepat habisnya tiket meskipun sudah ada tambahan penerbangan.
“Kalau kursinya tidak cukup, berarti armadanya juga terbatas. Itu yang akhirnya membuat harga tiket menjadi tinggi,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal karena tren perjalanan mudik setiap tahun relatif dapat diprediksi.
Data pergerakan penumpang di bandara selama beberapa tahun terakhir, menurutnya, dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan penerbangan tambahan.
“Harusnya sudah ada data tren lima tahun terakhir, misalnya berapa penumpang yang mudik dari Balikpapan dan ke mana saja tujuan utamanya. Dari situ bisa dihitung kebutuhan penerbangannya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa karakteristik wilayah Kaltim juga membuat masyarakat sangat bergantung pada moda transportasi udara.
Berbeda dengan wilayah Jawa yang memiliki banyak pilihan transportasi seperti kereta api, bus, maupun kendaraan pribadi, masyarakat Kaltim umumnya hanya memiliki dua pilihan moda untuk bepergian jarak jauh.
“Kalau dari Kaltim ke Jawa itu pilihan transportasinya hanya dua, lewat udara atau laut. Tidak ada alternatif lain,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai koordinasi antara pemerintah, operator bandara, maskapai penerbangan, serta pelaku industri perjalanan perlu diperkuat agar masalah serupa tidak terus berulang setiap musim mudik.
Menurutnya, perencanaan transportasi Lebaran harus dilakukan lebih terintegrasi agar ketersediaan armada dan tiket dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Koordinasi antara Kementerian Perhubungan, operator bandara, maskapai, dan juga industri perjalanan harus lebih kuat supaya masalah seperti ini tidak terjadi setiap tahun,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.