Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

7 Penyebab Trump Gagal Menang Perang Iran: Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Naik hingga Konflik dengan Israel

Uways Alqadrie • Minggu, 15 Maret 2026 | 12:48 WIB

Presiden AS, Donald Trump.
Presiden AS, Donald Trump.
KALTIMPOST.ID, WELLINGTON – Sejumlah analis media Amerika Serikat menilai Presiden AS Donald Trump belum berhasil memenangkan konflik melawan Iran. Dalam analisis yang dipublikasikan CNN, terdapat sedikitnya tujuh faktor yang membuat Washington kesulitan mengendalikan jalannya perang.

Laporan tersebut menyebut situasi yang dihadapi pemerintahan Trump semakin kompleks, baik dari sisi militer, ekonomi maupun geopolitik. Bahkan, hingga kini Amerika Serikat disebut belum bisa secara meyakinkan mengklaim kemenangan atas Teheran.

Dalam analisis itu disebutkan, Trump berada pada posisi yang rumit. Konflik yang meluas membuat kendali strategis Washington dinilai semakin terbatas, sementara risiko politik dan ekonomi terus meningkat.

Berikut beberapa faktor utama yang disebut menjadi penyebab sulitnya AS memenangkan konflik tersebut.

1. Krisis di Selat Hormuz

Salah satu dampak paling serius dari konflik adalah terganggunya jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi energi paling vital di dunia.

Analisis CNN menyebut tindakan Iran di kawasan tersebut menunjukkan bahwa dominasi militer Amerika tidak selalu mampu menyelesaikan semua persoalan di lapangan.

Penutupan atau gangguan di selat itu juga menciptakan tantangan besar bagi operasi Angkatan Laut AS. Sejumlah analis militer bahkan menilai membuka kembali jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut bukan perkara mudah.

Mantan perwira Angkatan Laut AS, Lawrence Brennan, mengatakan situasi di Selat Hormuz sangat menentukan hasil konflik. Menurutnya, kemenangan sulit diraih jika jalur perdagangan global itu tidak dapat diamankan kembali.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik kemungkinan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal.

2. Dampak Ekonomi Global

Gangguan terhadap pelayaran minyak di Teluk turut memicu gejolak ekonomi dunia. Serangan terhadap kapal tanker dan meningkatnya ketegangan di kawasan membuat harga minyak melonjak.

Selain itu, biaya asuransi bagi kapal yang melintasi wilayah tersebut ikut meningkat tajam karena risiko keamanan yang tinggi.

Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Bisa Makin Panas, Perubahan Sikap Rismon Sianipar Picu Kecurigaan Publik

Kondisi tersebut memperbesar tekanan ekonomi global sekaligus menambah beban politik bagi pemerintah Amerika Serikat dalam mengelola konflik yang sedang berlangsung.

Laporan analisis menyebut mobilisasi militer besar-besaran yang dilakukan Amerika turut membawa konsekuensi serius. Salah satunya adalah insiden jatuhnya pesawat tanker militer AS di Irak yang oleh pejabat setempat disebut sebagai kecelakaan.

Peristiwa itu terjadi setelah serangan sebelumnya yang menewaskan tujuh personel militer Amerika. Insiden tersebut menjadi gambaran bahwa operasi militer di kawasan Timur Tengah memiliki risiko besar bagi pasukan AS.

3. Klaim Kemenangan Terlalu Cepat

Di tengah situasi yang masih belum stabil, Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan konflik dengan Iran berjalan sukses. Ia bahkan mengklaim Amerika telah memenangkan perang tersebut.

Dalam sebuah pidato di Kentucky, Trump menyebut operasi militer berjalan sangat cepat dan menunjukkan kekuatan militer AS yang menurutnya tidak tertandingi.

Meski demikian, sejumlah analis menilai klaim tersebut terlalu dini. Menurut mereka, perkembangan di lapangan justru menunjukkan konflik masih jauh dari kata selesai dan belum ada indikator jelas yang menunjukkan kemenangan Amerika Serikat.

4. Tidak Ada Jalan Militer yang Pasti

Sejumlah pakar keamanan menilai krisis di Selat Hormuz memperlihatkan keterbatasan pendekatan militer. Iran dinilai masih memiliki kemampuan mengganggu jalur pelayaran meskipun Amerika mengerahkan kekuatan militernya.

Direktur analisis militer lembaga Defense Priorities, Jennifer Kavanagh, menyebut teknologi murah seperti drone yang dimiliki Iran tetap dapat menjadi ancaman serius bagi kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Menurutnya, persoalan yang muncul tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan militer. Ia menilai konflik tersebut lebih merupakan persoalan politik yang membutuhkan pendekatan diplomatik.

Kavanagh juga mempertanyakan keberlanjutan keamanan jalur pelayaran meski suatu saat berhasil dibuka kembali. Tanpa solusi politik, jalur itu dinilai tetap rentan terhadap gangguan.

5. Isu Pergantian Rezim Semakin Rumit

Serangan awal yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sempat memunculkan spekulasi bahwa operasi militer Amerika bertujuan mendorong perubahan rezim di Teheran.

Namun situasi berubah setelah Mojtaba Khamenei muncul sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Kondisi tersebut membuat narasi mengenai pergantian kekuasaan menjadi semakin kompleks dan tidak mudah diprediksi.

Peneliti senior dari lembaga Council on Foreign Relations, Ray Takeyh, mengatakan analisis terhadap konflik tersebut tidak bisa bersifat tetap. Menurutnya, kondisi yang dinilai benar hari ini bisa saja berubah dalam waktu singkat.

Ia menggambarkan para pengamat harus terus menyesuaikan analisisnya seiring perkembangan terbaru di lapangan. Situasi perang yang cepat berubah membuat setiap perkembangan perlu ditinjau ulang hampir setiap hari.

6. Perbedaan Kepentingan dengan Israel

Laporan analisis juga menyoroti kemungkinan perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel dalam konflik tersebut. Kedua negara memang bersekutu, tetapi prioritas strategis mereka belum tentu sama.

Jika Presiden AS Donald Trump suatu saat memutuskan menghentikan konflik karena pertimbangan politik dalam negeri, belum tentu Israel mengambil sikap yang sama.

Posisi geografis Israel yang berada di kawasan Timur Tengah membuat negara tersebut dinilai lebih siap menghadapi konflik jangka panjang dibandingkan Amerika Serikat.

Sejumlah indikasi perbedaan strategi mulai terlihat, terutama setelah Israel melakukan serangan terhadap fasilitas minyak Iran. Hal itu memunculkan dugaan bahwa tujuan militer kedua negara sekutu tersebut tidak sepenuhnya sejalan.

Pernyataan Trump yang menyebut keputusan mengakhiri perang akan dibicarakan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memicu perdebatan baru. Sebagian pengamat menilai hal itu menimbulkan kekhawatiran tentang besarnya pengaruh negara lain dalam keputusan militer Amerika.

7. Akhir Konflik Belum Dapat Dipastikan

Para analis menyimpulkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran masih bisa berkembang ke berbagai arah. Dalam banyak konflik besar, akhir perang sering kali tidak sesederhana deklarasi kemenangan.

Sejarah menunjukkan bahwa tidak semua perang berakhir dengan kemenangan mutlak seperti yang terjadi pada Perang Dunia II ketika Amerika Serikat dan sekutunya mengalahkan Jerman Nazi dan Kekaisaran Jepang pada 1945.

Karena itu, Washington kini menghadapi tantangan besar untuk menentukan bagaimana mengakhiri konflik yang telah dimulainya.

Para analis menilai pemerintah AS harus mampu menemukan jalan keluar yang tetap memberikan kesan kemenangan, sebelum keunggulan militer awal yang dimiliki mulai berkurang dan memberi kesempatan bagi lawan untuk memperpanjang konflik.

Editor : Uways Alqadrie
#Perang Iran Amerika #Mojtaba Khamenei #selat hormuz #pemimpin iran sekarang #Mojtaba Khamenei adalah #presiden donald trump #iran #donald trump