Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Umat Hindu Samarinda Sambut Nyepi, Angkat Pesan “Satu Bumi Satu Keluarga”

Muhammad Rizki • Selasa, 17 Maret 2026 | 19:43 WIB

Umat Hindu di Samarinda saat melaksanakan prosesi Melasti di tepian Sungai Mahakam. Ritual ini merupakan simbol penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki keheningan Nyepi. (IST)
Umat Hindu di Samarinda saat melaksanakan prosesi Melasti di tepian Sungai Mahakam. Ritual ini merupakan simbol penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki keheningan Nyepi. (IST)

KALTIMPOST.ID-Umat Hindu di Kota Samarinda mulai menjalankan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Tahun ini, perayaan mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna seluruh penghuni bumi adalah satu keluarga besar.

Tema tersebut dipilih sebagai pengingat pentingnya kohesi sosial dan harmoni di tengah dinamika pembangunan daerah, khususnya peran Samarinda sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda I Putu Suberata menjelaskan, pelaksanaan Nyepi tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama.

“Saat kami berhenti sejenak dari aktivitas (amati karya) dan perjalanan (amati lelungan), kami sedang memberi ruang bagi bumi untuk pulih. Ini adalah kontribusi kecil kami bagi keberlanjutan 'Satu Bumi' yang kita tinggali bersama,” ujarnya.

Rangkaian perayaan dipusatkan di Pura Jagat Hita Karana Samarinda, dengan sejumlah tahapan ritual yang sarat makna. Tahapan diawali dengan upacara Melasti yang dilaksanakan di Sungai Mahakam, Selasa (17/3/2026). Ritual ini menjadi simbol penyucian diri dan alam semesta.

Dalam prosesi tersebut, umat mengarak pratima dan pralingga sebagai simbol kehadiran Tuhan menuju sumber air. Air suci atau tirta penglukatan kemudian digunakan untuk penyucian. Melasti memiliki makna spiritual untuk membersihkan kotoran alam semesta serta mengambil sari kehidupan dari sumber air sebagai bekal penyucian diri.

Persiapan ogoh-ogoh di Pura Jagat Hita Karana Samarinda. Simbol kekuatan alam ini akan diarak dalam ritual Tawur Agung Kesanga untuk menjaga keharmonisan energi lingkungan. (IST)
Persiapan ogoh-ogoh di Pura Jagat Hita Karana Samarinda. Simbol kekuatan alam ini akan diarak dalam ritual Tawur Agung Kesanga untuk menjaga keharmonisan energi lingkungan. (IST)

Selanjutnya, Rabu (18/3/2026), digelar Tawur Agung Kesanga dan pawai ogoh-ogoh. Ritual ini bertujuan menyeimbangkan energi alam dan menetralisir unsur negatif agar tercipta keharmonisan. “Upacara ini menjadi simbol pembersihan energi negatif agar berubah menjadi energi positif bagi lingkungan,” ujar tokoh umat Hindu Samarinda, I Made Subamia.

Puncak perayaan berlangsung pada Kamis (19/3/2026) melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Dalam periode ini, umat menjalankan empat pantangan, yakni amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Melalui praktik tersebut, umat diajak melakukan refleksi diri dan menjaga keseimbangan hubungan dengan sesama manusia serta lingkungan.

Tahapan terakhir adalah Ngembak Geni pada Jumat (20/3/2026), yang menjadi momentum saling memaafkan dan mempererat kembali hubungan sosial antarwarga.

Ketua Panitia Nyepi Tahun Saka 1948 I Gusti Bagus Armayasa menyampaikan, seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya, dimulai dari ritual matur piuning hingga gotong royong pembuatan sarana upacara.

“Sebelum melakukan upacara melasti, kami lebih dulu melakukan ritual ‘Nunas Bhatara Tirta di Segara/laut’, hingga sampai hari ini upacara Melasti dan selanjutnya Tawur Kesanga dan Pengrupukan, sampai kemudian pelaksanaan hari raya Nyepi itu sendiri,” ujarnya. Panitia juga mengapresiasi dukungan masyarakat Samarinda yang selama ini menjaga toleransi antarumat beragama.

Melalui momentum Nyepi, umat Hindu mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kedamaian dan kelestarian lingkungan di Kalimantan Timur. “Nyepi Saka 1948 adalah momentum untuk menyadari bahwa apa yang terjadi pada satu bagian bumi, akan berdampak pada kita semua. Kita adalah satu keluarga besar yang memikul tanggung jawab bersama atas masa depan bumi ini,” ujarnya. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
#sungai mahakam #hari raya nyepi #samarinda #umat hindu #melasti