KALTIMPOST.ID, Kabar duka datang dari dunia usaha nasional. Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada Kamis (19/3) pukul 13.15 waktu Singapura.
Informasi mengenai pemilik Djarum wafat ini langsung dikonfirmasi oleh pihak perusahaan.
Corporate Communication Senior Manager Grup Djarum, Budi Darmawan, membenarkan kabar tersebut.
"Iya, Pak Michael Bambang Hartono wafat pada pukul 13.15 waktu singapura," ujar Budi yang dikutip dari Kumparan, Kamis (19/3).
Saat ini, keluarga masih dalam proses pengurusan jenazah. Kepergian sosok penting ini menjadi kehilangan besar, terutama bagi dunia bisnis dan olahraga Indonesia.
Baca Juga: Penentuan Idulfitri 1447 H, Rusun ASN IKN Jadi Pusat Pantau Hilal di Kaltim
Sosok di Balik Besarnya Djarum
Michael Bambang Hartono dikenal luas sebagai salah satu tokoh utama di balik kesuksesan Djarum. Ia bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, melanjutkan bisnis yang dirintis ayah mereka, Oei Wie Gwan.
Dari industri rokok, Djarum berkembang menjadi konglomerasi besar yang merambah berbagai sektor strategis. Kiprah Michael turut membentuk wajah bisnis modern Indonesia.
Ia juga kerap masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi berbagai lembaga internasional, berkat pendekatan bisnis jangka panjang berbasis keluarga.
Di luar bisnis, Michael aktif dalam kegiatan sosial melalui Djarum Foundation. Programnya mencakup pendidikan, lingkungan, budaya, hingga olahraga.
Kontribusi besarnya terlihat di dunia bulu tangkis melalui PB Djarum. Klub ini telah melahirkan banyak atlet berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Baca Juga: Israel Hantam Ladang Gas Utama Iran, Pasokan Energi Global Terancam
Atlet Bridge yang Mengharumkan Nama Indonesia
Tak banyak yang tahu, Michael Bambang Hartono juga seorang atlet bridge nasional. Ia pernah meraih medali perunggu di kejuaraan dunia pada 2008, 2009, dan 2010.
Prestasinya berlanjut saat tampil di Asian Games 2018, di mana ia kembali meraih medali perunggu untuk Indonesia.
Atas dedikasinya, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Satyalancana Dharma Olahraga pada 2020. ***
Editor : Dwi Puspitarini