KALTIMPOST.ID,TEL AVIV-Israel baru saja melewati salah satu periode paling kelam dalam sejarah pertahanan nasionalnya. Pada Sabtu (21/3) malam, sistem pertahanan udara yang selama ini diklaim tak tertembus oleh Tel Aviv, gagal membendung gempuran.
Dua rudal balistik milik Iran dilaporkan sukses menembus barikade langit dan menghantam langsung kawasan pemukiman di wilayah selatan, tepatnya di Kota Arad dan Dimona.
Skala serangan ini memicu keguncangan hebat di internal pemerintahan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan resminya tidak dapat menyembunyikan kegusarannya. Dengan nada berat, ia mengakui situasi tersebut sebagai "malam yang sangat sulit", sebuah pengakuan langka yang merefleksikan rapuhnya benteng pertahanan Israel di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang kian memanas.
Baca Juga: Iran Jawab Gertakan Trump, Selat Hormuz Terbuka untuk Semua, Kecuali Musuh!
Kegagalan Fatal Sistem Pencegat
Narasi mengenai kedigdayaan teknologi pencegat rudal Israel seolah sirna dalam semalam. Sedikitnya dua proyektil Iran menghujam bumi tanpa mampu diintersepsi. Dampaknya fatal; rudal dengan tingkat presisi tinggi tersebut menghantam kawasan padat penduduk, menyisakan kawah-kawah raksasa di titik ledakan sebagai bukti kedahsyatan hulu ledak Teheran.
Kondisi di lapangan menggambarkan suasana mencekam. Bangunan di Arad dan Dimona mengalami kerusakan struktural parah, dengan puing beton dan logam yang menyelimuti jalanan. Unit pemadam kebakaran setempat mengonfirmasi bahwa meski upaya pencegatan sempat dilakukan, rudal pertahanan gagal mengenai sasaran.
"Rudal pencegat diluncurkan, namun meleset. Akibatnya, terjadi hantaman langsung dari rudal balistik dengan hulu ledak seberat ratusan kilogram," ujar salah seorang petugas evakuasi di lokasi kejadian.
Baca Juga: Heboh Rudal Iran ke Diego Garcia, Israel Klaim Serangan, Iran Tegas Menolak Tuduhan
Tragedi Kemanusiaan: 100 Warga Terluka
Serangan ini membawa dampak masif bagi warga sipil. Laporan medis menyebutkan lebih dari 100 orang mengalami luka-luka. Arad menjadi titik paling terdampak dengan 75 korban, di mana 10 orang di antaranya dalam kondisi kritis. Sementara di Dimona, tercatat 33 orang terluka, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang kini dalam kondisi kritis akibat terkena serpihan peluru.
Magen David Adom, layanan darurat nasional Israel, bekerja ekstra keras mengevakuasi korban ke rumah sakit di tengah kepanikan warga. "Situasi di lokasi sangat kacau," ungkap Riyad Abu Ajaj, petugas medis yang terlibat dalam evakuasi. Kepulan asap hitam dari bangunan yang terbakar di Arad menambah dramatis proses penyelamatan yang melibatkan puluhan personel darurat.
Pesan dari Teheran dan Sensitivitas Dimona
Pihak Teheran tidak menutupi motif di balik serangan masif ini. Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan bahwa hujan rudal tersebut merupakan balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas nuklir mereka di Natanz beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Iran Klaim AS Tak Berani Dekati Teluk Persia, IRGC Sebut Rudal yang Dipakai Sudah Berusia 10 Tahun
Namun, yang menjadi sorotan dunia internasional adalah pemilihan target serangan: Dimona. Selama puluhan tahun, Dimona dikenal sebagai lokasi situs nuklir Israel yang paling dijaga ketat. Meski Israel menyebutnya sebagai pusat penelitian, kawasan ini dianggap sebagai simbol kekuatan nuklir Tel Aviv.
Dengan jatuhnya rudal di kawasan sensitif tersebut, Iran seolah mengirimkan pesan tegas bahwa tidak ada sejengkal tanah pun di Israel yang benar-benar aman dari jangkauan militer mereka.(*)
Editor : Hernawati