KALTIMPOST.ID,YERUSALEM-Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik baru setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Selasa (24/3) pagi. Ledakan hebat dilaporkan terdengar hingga ke Yerusalem, memicu kepanikan dan memaksa militer Israel mengerahkan tim penyelamat ke sejumlah lokasi terdampak.
Melansir laporan AFP, militer Israel mengonfirmasi bahwa gelombang serangan rudal terbaru ini menyasar wilayah utara negara tersebut. Meski sistem pertahanan udara diaktifkan untuk menghalau ancaman, beberapa rudal dilaporkan berhasil lolos dan menghantam bangunan.
Layanan darurat Magen David Adom merilis rekaman yang menunjukkan kerusakan signifikan pada lantai atas sebuah gedung, dengan puing-puing yang berserakan di area sekitarnya. Sejauh ini, petugas medis melaporkan satu pria berusia 30-an mengalami luka ringan akibat terkena serpihan peluru. Belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam serangan fajar tersebut.
Baca Juga: Trump Mendadak Buka Negosiasi dengan Iran, Pasar Global Langsung Bergejolak
Pasca-ledakan kedua, Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel sempat menginstruksikan warga untuk masuk ke ruang perlindungan sebelum akhirnya diizinkan keluar setelah situasi dinyatakan terkendali.
Simpang Siur Diplomasi AS-Iran
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengeklaim adanya komunikasi antara Washington dengan pejabat tinggi Iran yang tidak disebutkan identitasnya. Namun, klaim tersebut langsung dimentahkan oleh pihak Teheran yang membantah adanya dialog rahasia dengan Amerika Serikat.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan telah berkoordinasi dengan Trump. Meski mengakui adanya peluang kesepakatan damai yang diupayakan AS, Netanyahu menegaskan tidak akan mengendurkan operasi militernya.
Baca Juga: Apresiasi Menlu Iran untuk Indonesia dan Solidaritas Asia Tenggara di Hari Idulfitri
"Ada pandangan bahwa pencapaian militer saat ini bisa menjadi daya tawar dalam kesepakatan. Namun, di saat yang sama, kami akan terus menggempur titik-titik di Iran maupun Lebanon demi keamanan Israel," tegas Netanyahu.
Perang Meluas ke Lebanon
Selain berhadapan dengan Iran, Israel juga terus memperluas operasi daratnya di Lebanon guna menggempur kekuatan Hizbullah. Serangan udara di Beirut Selatan pada Senin (23/3) diklaim berhasil menangkap dua anggota kelompok tersebut.
Namun, operasi militer ini berdampak besar pada warga sipil. Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas dan satu juta warga terpaksa mengungsi.
Sementara itu, laporan dari Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia mencatat setidaknya 3.230 warga Iran tewas selama konflik berlangsung, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga.(*)
Editor : Dwi Puspitarini